Warga Sekitar TPA Jatiwaringin Mengeluh, Kebakaran Ganggu Kesehatan dan Cari Nafkah

- Kamis, 02 Juli 2026 | 15:54 WIB
Warga Sekitar TPA Jatiwaringin Mengeluh, Kebakaran Ganggu Kesehatan dan Cari Nafkah

Warga yang tinggal di sekitar Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Jatiwaringin, Kabupaten Tangerang, Banten, berharap kebakaran yang telah berlangsung sejak Selasa (30/6) segera dipadamkan. Asap pekat dari lokasi kebakaran disebut telah masuk ke permukiman warga, mengganggu kesehatan dan aktivitas sehari-hari.

Duda (49), warga Kampung Jonggol yang berjarak sekitar 1 kilometer dari TPA, mengatakan kepulan asap dari lokasi kebakaran sudah terlihat jelas dari rumahnya. "Informasi dari suara aja dari orang-orang. Emang itu asap gede, dari rumah saya kelihatan tebal banget," kata Duda saat ditemui di sekitar TPA Jatiwaringin, Kamis (2/7).

Menurut Duda, asap dari kebakaran beberapa kali masuk ke rumah warga ketika angin bertiup ke arah permukiman. Kondisi itu membuat warga merasa sesak, terutama anak-anak. "Ya sesak napas lah, apalagi anak kecil itu. Yang kasihan anak kecil. Kita aja yang udah dewasa engap, apalagi anak kecil gitu. Ya tolong lah segera diselesaikan hari ini gitu," ujarnya.

Ia berharap petugas dapat segera memadamkan api karena dampaknya sudah dirasakan warga di sekitar TPA. Bahkan, menurutnya, warga yang tinggal paling dekat dengan lokasi ada yang memilih mengungsi akibat asap yang terus menyelimuti permukiman. "Diselesaikan tolong lah gitu petugas tolong segera hari ini. Kasihan, kasihan yang itu yang deket yang punya anak gitu, yang deket dari rumah TPA kasihan pada mengungsi. Tolong Pak tolong selesaikan hari ini, kasihan masyarakat yang di kampung-kampung pada keasapan anak kecil kasihan. Tolong lah selesaikan," tutur Duda.

Kebakaran juga berdampak pada pekerjaannya sebagai pencari barang bekas di TPA. Selama api belum padam, ia mengaku tidak bisa bekerja sehingga kehilangan penghasilan hariannya. "Saya juga terganggu, saya terganggu nggak bisa usaha. Tolong lah usahakan hari ini selesai kalau bisa," katanya. Duda mengatakan penghasilannya dari mencari barang bekas memang tidak menentu. Dalam sehari, ia terkadang hanya memperoleh puluhan ribu rupiah, bahkan tidak mendapatkan apa pun. "Penghasilan kecil Neng, kecil berapa duit. Saya aja yang sendiri Rp 70 ribu kotor. Rp 70 ribu kotor per hari. Belum makan, belum merokok, habis, nombok malahan," ucapnya.

Hal serupa dirasakan Misar (62), warga yang tinggal sekitar 500 meter dari TPA dan sehari-hari mencari barang bekas di lokasi tersebut. "Heeuh nggak bisa ditentuin, bisa di sini mah kadang-kadang dapat Rp 30 (ribu), Rp 20 (ribu), kadang-kadang segitu, kadang-kadang gede-gedean gitu, kadang-kadang kecil. Kadang-kadang hari ini blong tuh, kadang-kadang mah nggak dapat tuh, jadi nggak bisa nentu, bisa di sini mah," ucapnya.

Misar mengaku melihat langsung kondisi kebakaran pada hari kedua. Saat tiba di TPA, api sudah membesar dan asap hitam menyelimuti area pembuangan sampah. "Iya lah, lihat aja saya ke sini tuh pengin tahu. Datang ke sini udah besar semua tuh," kata Misar. Menurut Misar, aktivitas mencari barang bekas terpaksa dihentikan karena truk pengangkut sampah tidak lagi diizinkan masuk ke TPA. Selain itu, kondisi lokasi juga dinilai membahayakan. "Saya juga ngambil, kayak truk-truk kan nurunnya di sini tuh, udah diistirahatin, nggak boleh ngebuang," ujarnya.

Ia mengatakan dirinya belum bisa kembali bekerja karena khawatir tanah di area TPA amblas akibat kebakaran. "Tapi lagi posisi begini mah nggak bisa nyari. Heeuh nggak bisa nyari gimana susah. Iya, injak takut amblas, bahaya gitu. Pokoknya kalau posisi begini nggak bisa lah. Jadi bisa-bisa mungkin udah beres gitu baru bisa," ucap Misar.

Misar mengungkapkan, kebakaran di TPA sebenarnya bukan kali pertama terjadi. Namun menurutnya, kebakaran kali ini jauh lebih besar dibandingkan kejadian-kejadian sebelumnya. "Nggak, nggak sebesar begini. Kecil paling serumahan gitu, dua rumahan. Lah ini mah nggak nih. Pas saya kemarin ke sini waduh udah besar api," katanya. Ia juga menyebut, asap tebal dari kebakaran juga sempat masuk ke rumah-rumah warga hingga membuat sebagian warga memilih keluar rumah. "Kemarin juga nyampai (rumah). Pokoknya kalau kampung-kampung sini rumah kampung ini mah asap masuk Neng. Masuk. Jadi orang-orang itu pada keluar gitu. Kan kemarin hari keduanya tuh asap tebal gitu nyampai lah ke rumah," tutur Misar.

Akibat kebakaran tersebut, Misar mengaku belum bisa kembali mencari barang bekas dan untuk sementara hanya bisa menunggu hingga kondisi TPA kembali aman. "Udah nggak bisa ngambil lagi. Anggap aja prei gitu, libur aja udah nggak beli beras. Udah dianggap libur aja udah nggak bisa usaha. Ini dari pagi nih di sini aja," katanya.

Editor: Melati Kusuma

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags