Malam masih larut ketika jam di ponsel menunjukkan pukul 00.30 waktu Arab Saudi. Di bawah langit Muzdalifah yang cerah, jutaan jemaah haji bersimpuh khusyuk berdoa, sebagian memungut kerikil dalam keheningan. Namun bagi petugas Panitia Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) 2026, keheningan itu justru menjadi awal medan perjuangan yang sesungguhnya.
Di pundak mereka, ada amanah berat: menggerakkan 210 ribu jemaah haji Indonesia menuju Mina dalam waktu sesingkat-singkatnya. Para petugas berkejaran dengan waktu. Hanya enam jam tersisa sebelum matahari naik dan panas mulai membakar bumi perkemahan pada pukul 07.00 pagi.
Muzdalifah, malam itu, berubah menjadi samudra putih kain ihram yang tak bertepi. Klakson bus taraddudi bersahut-sahutan, terjebak di tengah kepadatan jalan raya. Di tengah kepungan massa dan kepulan asap kendaraan, para petugas berdiri tegak. Suara sudah parau, tenggorokan kering perih karena terus-menerus berteriak, "Qif… qif…! Fukkul bab! Bab wara'! Kanan, kanan, masuk ke kanan, penuhi! Masuk penuhin bagian belakang, padatin, padatin! Harrikkil bus, amsi!"
Seorang petugas tampak sangat kelelahan. Tangannya mulai gemetar, namun tetap menuntun langkah jemaah masuk ke dalam bus. Setiap menit berdetak seperti bom waktu. Cemas mulai menjalar di wajah-wajah jemaah. Melihat itu, para petugas menahan lelah, tetap tersenyum, dan menyuntikkan semangat. "Bapak, Ibu, jangan khawatir. Semua pasti tiba di Mina tepat waktu. Tidak akan ada yang tertinggal di Muzdalifah," ujar mereka menenangkan jemaah yang mulai protes dan mendesak untuk diizinkan berjalan kaki ke Mina.
Di balik ketegaran itu, fisik para petugas berada di titik nadir. Otot-otot kaki bengkak dan menegang setelah berjam-jam berdiri dan berlari. Kantuk luar biasa menggelayuti mata. Namun, ada satu kalimat yang menjadi penawar letih: "Barangsiapa yang menyiapkan serta menyukseskan perjalanan haji saudaranya, maka ia sejatinya telah ikut berhaji." Keyakinan itulah yang membuat kaki-kaki bengkak itu tetap melangkah. Keringat yang bercucuran di malam dingin itu luruh demi rida Allah SWT.
Tepat pukul 07.00 pagi, roda bus terakhir perlahan bergerak meninggalkan Muzdalifah yang kini mulai lengang. Para petugas menyeka keringat di dahi, tersenyum getir sekaligus lega. Tugas malam itu selesai, lelahnya adalah lillahi ta'ala. Sebagai manusia biasa, mereka sadar penuh akan segala keterbatasan di lapangan. Koordinasi dengan pihak syarikah, ketersediaan armada yang terbatas, waktu yang sangat sempit, hingga minimnya fasilitas sering menjadi sebab hilangnya kenyamanan jemaah. Banyak ekspektasi yang belum mampu dipenuhi dengan semestinya.
Dari lubuk hati yang paling dalam, para petugas memohon maaf sebesar-besarnya atas segala kekurangan pelayanan selama malam mabit yang krusial ini. Kepada Allah SWT, mereka bersujud memohon ampunan atas segala khilaf dan keterbatasan kemanusiaan. Mereka menyadari bahwa tidak ada pelayanan yang sempurna, karena pepatah mengatakan tak ada gading yang tak retak. Segala kekurangan yang terjadi tahun ini akan menjadi pelajaran berharga bagi mereka.