Dua mahasiswa, Tiyo dan Fathimah, menjadi perbincangan hangat di media sosial setelah video percakapan mereka viral. Tiyo, yang dinilai kasar dan tidak sopan, mendapat kritik tajam. Sementara Fathimah, yang tampil santun dan tenang, justru juga tidak luput dari hujatan. Fenomena ini memicu pertanyaan: apa sebenarnya yang diinginkan para buzzer dan pendukung rezim?
Dalam video yang beredar, Tiyo terlihat berbicara dengan nada tinggi dan dianggap tidak menghormati lawan bicara. Sebaliknya, Fathimah seorang mahasiswa Fakultas Kedokteran menyampaikan argumen dengan tenang, lugas, dan tertata. Banyak warganet memuji cara Fathimah berdebat, namun tidak sedikit pula yang mengecamnya. "Fathimah ini dididik dengan pola parenting yang gimana ya? Anak FK, identik dengan dunia eksakta, tapi pemikiran sosial-politisnya sematang ini. Dia berargumen juga nggak kebawa emosi lawan bicara. Tetap tenang, tapi lugas; intonasi plus redaksi argumennya tertata banget," tulis seorang pengguna X.
Warganet lainnya menyoroti pernyataan Fathimah yang dianggap mewakili generasi Z. "Menurut generasi kami, pemerintah seharusnya bukan sibuk menuduh seseorang antek-antek asing," ujar Fathimah dalam video. Kutipan ini pun ramai dibagikan dengan pujian. "Makasih Fatimah sudah mewakili Gen Z," cuit akun @soraipena.
Namun, di tengah pujian, Fathimah juga mendapat kritik. Sebagian warganet menilai bahwa cara santunnya tetap tidak bisa diterima oleh kelompok tertentu. "Tiyo versi kasarnya dibully, katanya nggak sopan. Fathimah ini versi sangat santunnya juga dibenci. Maunya buzzer ternak rezim apasih?" tulis sebuah akun. Pertanyaan retoris itu menggambarkan kebingungan publik: apa pun gaya penyampaiannya, kritik terhadap pemerintah seolah selalu mendapat perlawanan.
Viralnya dua sosok ini memicu diskusi lebih luas tentang kebebasan berpendapat di kalangan mahasiswa. Banyak yang menilai bahwa rezim hanya menginginkan generasi muda yang "angguk-angguk manut" setuju tanpa kritik. "Apa gak cukup 600 anggota DPR jadi tim angguk-angguk?" tulis seorang warganet dengan nada sinis.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada tanggapan resmi dari pihak kampus atau pemerintah terkait polemik tersebut. Namun, perdebatan di dunia maya terus bergulir, menunjukkan betapa sensitifnya isu kebebasan berekspresi di tengah tekanan politik.
Artikel Terkait
Baku Tembak dengan Polisi, Satu Pelaku Pencurian Baterai BTS Tewas di Lampung
Bus Pariwisata Mogok di Depan Halte TransJakarta Cawang, Macet ke Semanggi
Arsitektur Gotong-Royong: Menghidupkan Kembali Semangat Warga di Tengah Krisis
Irak Tangkap Puluhan Pejabat dan Anggota Parlemen dalam Operasi Antikorupsi