Polisi Dalami Dugaan Intimidasi terhadap Dokter Icha yang Meninggal di TTU

- Minggu, 28 Juni 2026 | 14:06 WIB
Polisi Dalami Dugaan Intimidasi terhadap Dokter Icha yang Meninggal di TTU

Polres Timor Tengah Utara (TTU), Nusa Tenggara Timur, tengah menyelidiki dugaan intimidasi yang dialami dokter Eliza Princila Utami Pakaenoni atau dokter Icha. Dokter muda itu meninggal dunia setelah diduga mengalami tekanan psikologis usai menangani pasien di RS Leona Kefamenanu.

Penyidik masih memeriksa sejumlah saksi dan berencana memanggil tiga anggota DPRD Kabupaten TTU yang dilaporkan keluarga melakukan intimidasi terhadap dokter Icha saat bertugas di Instalasi Gawat Darurat (IGD). Kapolres TTU AKBP Eliana Papote menegaskan proses penyelidikan dilakukan secara profesional, objektif, dan transparan.

“Hari ini proses pengambilan keterangan terhadap para saksi masih berlangsung. Penyidik terus bekerja mengumpulkan fakta-fakta untuk membuat terang peristiwa ini. Hasil pemeriksaan para saksi nantinya akan kami laporkan setelah seluruh rangkaian pemeriksaan selesai,” ujar Eliana, Minggu (28/6).

Menurut Eliana, penyidik akan memeriksa tenaga kesehatan yang bertugas bersama dokter Icha saat piket di IGD pada hari kejadian. Polisi juga berkoordinasi dengan RS Leona Kefamenanu untuk memperoleh rekam medis terkait kondisi kesehatan dan kejiwaan dokter Icha selama perawatan setelah insiden tersebut.

Tak hanya itu, penyidik akan meminta klarifikasi dari tiga anggota DPRD Kabupaten TTU yang disebut dalam laporan keluarga. “Kami juga berkoordinasi dengan ahli pidana dan ahli psikologi guna mengkaji apakah dugaan intimidasi tersebut memenuhi unsur tindak pidana atau tidak. Semua dilakukan berdasarkan fakta dan ketentuan hukum yang berlaku,” jelas Kapolres.

Polisi Jaga Situasi Tetap Kondusif

Di tengah penyelidikan, Polres TTU melakukan langkah preventif untuk menjaga keamanan dan ketertiban masyarakat. Polisi telah melakukan pendekatan kepada keluarga dokter Icha agar mempercayakan penanganan perkara kepada aparat dan tidak melakukan tindakan yang dapat memicu konflik.

Koordinasi juga dilakukan dengan Ketua DPRD TTU terkait laporan keluarga ke Badan Kehormatan DPRD, serta dengan Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Kabupaten TTU untuk mengetahui perkembangan respons organisasi profesi. Polres TTU juga berkomunikasi dengan organisasi kemasyarakatan dan kepemudaan agar tidak memanfaatkan isu tersebut untuk aksi yang berpotensi mengganggu keamanan.

Aksi 1.000 Lilin

Pada Sabtu (27/6) pukul 17.30 WITA, IDI Kabupaten TTU bersama tenaga kesehatan menggelar doa bersama dan aksi 1.000 lilin di depan Kantor DPRD Kabupaten TTU sebagai bentuk belasungkawa. Kegiatan itu diikuti sekitar 150 peserta.

“Kami menghormati penyampaian aspirasi maupun ungkapan belasungkawa masyarakat sepanjang dilaksanakan sesuai ketentuan yang berlaku,” kata Kapolres.

Polres TTU menyiagakan personel pengamanan dan meningkatkan patroli di sekitar rumah keluarga almarhum maupun pihak terkait. Patroli siber juga dilakukan untuk memantau informasi di media sosial serta mengantisipasi penyebaran informasi yang berpotensi memicu konflik.

Kapolres mengimbau masyarakat tetap tenang dan tidak mudah terprovokasi. “Kami mengajak seluruh masyarakat untuk menjaga situasi kamtibmas tetap kondusif serta mempercayakan proses penanganan perkara ini kepada Polres TTU. Kami berkomitmen menyelesaikan kasus ini secara profesional, transparan, objektif, dan sesuai dengan ketentuan hukum yang berlaku,” tegasnya.

Dokter Icha ditemukan meninggal dunia di rumah orang tuanya di Kabupaten Kupang pada Jumat (26/6). Keluarga menduga korban mengalami depresi berat setelah mendapat intimidasi saat menangani pasien di RS Leona Kefamenanu. Tiga anggota DPRD TTU yang disebut keluarga telah membantah melakukan intimidasi terhadap dokter muda tersebut.

Editor: Hendra Wijaya

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags