Juru Kunci Makam Djaduk Ferianto Akui Rusak Nisan demi Bertemu Ahli Waris

- Kamis, 13 Agustus 2026 | 03:00 WIB
Juru Kunci Makam Djaduk Ferianto Akui Rusak Nisan demi Bertemu Ahli Waris

Seorang perempuan yang mengaku sebagai juru kunci Makam Kuncen Lama di Pakuncen, Kota Yogyakarta, akhirnya angkat bicara di hadapan wartawan, Rabu (12/8). Ia mengakui telah merusak makam mertua mendiang seniman Djaduk Ferianto, tetapi membantah tindakannya salah.

Perempuan berinisial S itu awalnya menolak diwawancarai. Namun, setelah beberapa saat, ia bersedia berbicara dengan syarat tidak menyebutkan nama lengkap dan wajahnya tertutup masker. "Tulis juru kunci saja gitu (nama saya)," katanya.

S mengaku mengambil kepala nisan makam Petra Ferianto, istri Djaduk, dengan tujuan agar ahli waris menemuinya. Selama ini, ia merasa tidak pernah diberi uang oleh Petra meski kerap membersihkan makam. "Untuk biar ketemu. Saya selama ini si Ibu enggak berusaha nemoni (menemui) saya. Dengan adanya kejadian itu kan terus nemoni (menemui)," tuturnya.

Ia menegaskan perbuatannya bukan tanpa sebab. "Memang di situ begitu. Nggak (dari) Pemkot, itu untuk umum enggak ada dari mana-mana. (Memang dirusak) hooh, kalau orangnya keterlaluan, udah bertahun-tahun lho. Saya ngomong bertahun-tahun lho, sama sekali tidak berusaha nyari juru kuncinya memang semua dibegitukan," ujarnya.

Tidak Dikasih Uang

S mengatakan Petra kerap nyekar ke makam tetapi selalu datang pagi hari, saat S tidak berada di tempat. Akibatnya, Petra tidak pernah memberinya uang. "Saya di situ ini Ibu ini (Petra) berkali-kali ngirim (nyekar) tapi tidak pernah ngasih. Karena waktunya mesti pagi-pagi. Padahal kalau pagi itu tahu, soalnya ngirimnya bukan cuma sekali dua kali, udah berkali-kali udah bertahun-tahun pagi. Jadi ndak pernah ketemu sama juru kunci," tuturnya.

S mengaku tidak mematok besaran uang yang harus diberikan ahli waris. Ia menyerahkan seikhlasnya, tetapi dengan embel-embel tepa salira. "Nggak ada utang, Ibu kalau ke sini aja ngasih, monggo. Berapa? Terserah seikhlasnya. Ning ya tepa-tepa. Ha nek ngekei (ngasih) Rp 2.000, Rp 5.000, njur (lalu) untuk apa ya duit segitu?," ujarnya.

Untuk membersihkan makam, S mengerahkan dua orang tenaga yang bekerja setiap pagi dan sore. "Gek leh nyapu esok sore (nyapunya pagi sore) tenaga saya dua. Itu, monggo. Tidak ada pengancaman, tidak ada pemaksaan, tidak harus. Tapi ngerti dewe (tapi tahu sendiri). Wong situ tuh tiap hari dibersihkan tempatnya aja Ibue ya ngerti nek resik (bersih). Kok ora tahu (memberi)," ungkapnya.

S menyarankan Petra datang agak siang agar bisa bertemu dengannya. "Kalau orang punya niat baik ya, maaf ini 'Eh aku nek rene kok ora tau ketemu juru kuncine, jajal tak awan sedikit (aku kalau ke sini kok tidak pernah bertemu juru kunci, coba siang dikit), berusahalah!'," katanya. "Kalau yang juru kunci kan tidak tahu mau datang kapannya, tidak tahu, karena keperluan orangnya tidak tahu. Jadi si tamu itu mbok berusaha kalau ada niat ketemu juru kuncinya lho," tambahnya.

Bantah Mengancam, 3 Tahun Tak Ditengok Makam Hilang

S membantah telah mengancam Petra. Ia mengaku hanya memberi pengertian bahwa makam yang tiga tahun tidak ditengok akan hilang. "Tidak ada pengancaman. Cuma saya ngomong, memberi pengertian 'bu, di sini itu memang kalau sudah 3 tahun sama sekali tidak pernah ditengok, itu biasanya hilang.' Saya memberi tahu, bukan mengancam. Kok di situ ditulis mengancam. Saya tidak tahu apa yang ngomong Ibunya apa dari wartawannya, saya enggak tahu ya," katanya.

Ia juga mengungkapkan bahwa Petra akhirnya mentransfer Rp 500 ribu setelah kejadian itu. "Tapi sekali lagi tidak ada pemaksaan, tidak ada harus ngirim sekian, enggak. Itu (Petra) transfer 500 (ribu) mungkin Ibu sadar, 'Oh iya, aku selama ini ra tau ngekei (tidak pernah memberi)'. Baru sekali itu ngasih Rp 500 ribu. Dan saya tidak ngarani (tidak mematok), ora njaluk (tidak meminta), monggo. Mau ngasih berapa seikhlasnya monggo. Ternyata Ibu kemarin ngasih 500 (ribu rupiah). 500 (ribu rupiah) itu tak bagi sama tukangnya, karena kemarin tak betulkan lagi bentuknya (nisan)," bebernya.

S mengatakan profesi juru kunci ini turun temurun dari kakeknya. Ia mengaku punya hak mengelola makam tersebut. "Iya (hak), karena di situ pengelolanya juru kunci. Itu turun temurun," katanya. "Kalau dulu petunjuk orang tua dari Kelurahan. Kelurahan zaman dulu," tuturnya.

Ditawari Rp 100 Ribu Sebulan

Petra sebelumnya menawarkan uang bulanan Rp 100 ribu agar perusakan tidak terulang. Namun, S menilai jumlah itu kurang. "Saya enggak minta, monggo. Ini ada orangnya. Ya sekarang kalau saya orang tiga, ya toh orang tiga nek sebulan 100 (ribu), coba tiap hari pagi sore disapu, monggo. Seikhlasnya nek kebangetan ya piye (bagaimana)?," ujarnya.

Tidak Ada yang Menyuruh Membersihkan

S mengakui tidak ada pihak ahli waris yang menyuruh membersihkan makam. Baginya, itu sudah tugasnya. "Lha ya enggak (ada yang menyuruh) memang itu tugasnya. tugasnya dari dulu. Tapi kalau memang mau ngasih 100 (ribu) ikhlasnya segitu, ya monggo. Saya kan sudah bilang. Tapi di koran apa itu katanya dipaksa dan enggak tahu siapa yang nganu, dipaksa dan diancam. Itu semua tidak benar," katanya.

Penjelasan Petra

Petra mengaku selalu memberikan uang kepada petugas kebersihan saat nyekar. Namun, ketika tidak ada petugas, ia bingung harus memberi uang ke mana. Dalam mediasi, Petra memutuskan membayar Rp 500 ribu sebagai 'utang' jasa bersih-bersih, Rp 50 ribu untuk perbaikan makam, dan akan membayar uang bulanan Rp 100 ribu. Padahal, tidak ada aturan tertulis soal pungutan ini.

"Kesepakatannya kalau kemarin-kemarin dianggap saya tidak membayar okelah itu saya anggap utang saya, tak saur lah, saya bayar. Saya minta dikembalikan lagi kondisi makam bapak saya, terus daripada di kemudian hari juga enggak ketemu lagi, saya menawarkan bagaimana kalau saya langganan per bulan. Gitu, saya menawarkan kalau per bulan 100 bagaimana," katanya.

"Beliau keberatan karena dihitung per hari sebulan 30 hari, 100 dibagi 30 hari itu jadi seharinya hanya berapa gitu kan. Oke, nanti saya tanya-tanya dulu ke peraturannya bagaimana," ujarnya. Petra berharap kejadian ini tidak terulang. "Mediasinya yaitu per bulan saya akan membayar beliau (juru kunci) tapi besarannya saya sesuaikan dengan yang peraturan yang ada," katanya.

Kelurahan Sebut Pungutan Sebagai Kearifan Lokal

Lurah Pakuncen Budhi Riyanto mengatakan pungutan itu merupakan kearifan lokal. "Makam Kuncen Lama ini memang dikelola secara kearifan lokal oleh para juru kunci-juru kunci. Jadi, tanggung jawab dan pengelolaannya memang ada di beliau-beliau," kata Budhi saat ditemui kantornya.

Soal uang bulanan, Budhi mengaku tidak ada peraturannya. Praktik itu sudah turun temurun. "Ya itu diserahkan kearifan lokal. Kearifan lokal ya memang nanti biar dari juru kunci sendiri," katanya. "Itu memang dari turun-temurun, kami dari pihak pemerintah itu baru akan menata setelah peraturannya mungkin ada. Karena selama ini kan memang baru ada perdanya nggih. Nanti kita menunggu peraturan yang lebih mendetil tentang pengelolaan makam ini nanti akan coba akan kami tata," tambahnya.

Budhi menjelaskan makam tersebut menggunakan tanah Sultan Ground atau tanah Kasultanan Yogyakarta. Statusnya makam umum yang diurus juru kunci. "Makam umum kan, jadi pengelolaannya dikelola oleh juru kunci," ujarnya. "Kewenangannya, memang kalau makam umum itu diserahkan kearifan lokal," tuturnya.

Budhi berencana mengumpulkan para juru kunci agar pengelolaan dan tarif bisa tertata. Sementara itu, kondisi makam mertua Djaduk sudah diperbaiki dan kepala nisan kembali terpasang. Kasus perusakan ini pun berakhir dengan perdamaian di kepolisian.

Editor: Novita Rachma

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags