Lima calon manajer program Kemitraan dan Distribusi Minyak dan Gas (KDMP) meninggal dalam dua minggu pelatihan militer. Peristiwa ini menuai kritik tajam dari Dr. Media Wahyudi Askar, dosen Universitas Gadjah Mada sekaligus Direktur Kebijakan CELIOS.
"Ungkapan duka cita itu tidak mengembalikan nyawa saudara kita," ujarnya dalam sebuah pernyataan.
Media membandingkan angka kematian dalam pelatihan militer di Indonesia dengan Korea Selatan. Selama sepuluh tahun terakhir, empat orang meninggal dalam wajib militer di Korea Selatan dengan total peserta dua juta orang. Sementara itu, Indonesia kehilangan lima orang hanya dalam dua minggu dengan peserta 32.000 orang.
"Lebih ironi lagi, di Korsel itu pelatihan militernya untuk perang, di Indonesia pelatihan militernya untuk calon manajer toko kelontong, ini absurd, ini aneh, ini tidak bisa diterima dengan akal sehat!" tegasnya.
Menurut Media, cara berpikir kebijakan saat ini seperti kembali ke era 1970-an. Ia sepakat kegiatan ini dihentikan saja. "Anggaran itu mungkin bisa hilang, tapi nyawa itu tidak bisa dikembalikan," katanya.
Artikel Terkait
Survei Litbang Kompas: Kepercayaan Publik ke Polri Tembus 82,4 Persen
Ribuan Warga Padati Bundaran HI Rayakan HUT ke-499 Jakarta
Mendagri Tito Karnavian Resmi Buka Festival Fulan Fehan IV di NTT, Soroti Persahabatan Indonesia-Timor Leste
Komnas HAM Catat 151 Aduan Penyiksaan Sepanjang 2024-2026, Soroti Kasus Aktivis KontraS