Presiden Prabowo Subianto menyatakan bahwa tidak ada persoalan yang lebih genting daripada rasa lapar. "Katanya ada orang-orang pintar yang mengatakan ada lebih genting dari perut lapar. Saya kira gak ada lebih genting dari perut lapar. Orang perut lapar itu kalau gak segera diisi, ya dia mati," ujarnya dalam sebuah pernyataan yang terekam dalam video.
Jika dilihat tanpa memperhatikan konteks secara utuh, pernyataan itu memang tidak sepenuhnya keliru. Dalam fiqih Islam, misalnya, terdapat ketentuan darurat yang membolehkan seseorang yang kelaparan ekstrem mengonsumsi makanan yang diharamkan, seperti daging babi atau bangkai, demi menyelamatkan nyawa. Ketentuan serupa juga berlaku bagi orang yang tersedak hingga saluran napasnya tersumbat: ia boleh meminum khamr jika tidak ada air putih atau minuman halal di sekitarnya. Bahkan, seseorang yang diancam pembunuhan diperbolehkan mengucapkan kata-kata kufur selama hatinya tetap teguh dalam iman.
Artinya, dalam kondisi kelaparan yang akut, kebutuhan paling mendasar memang hanya soal makanan. Bukan soal peningkatan gaji guru, perbaikan infrastruktur pendidikan, atau mutu pengajaran. Semua itu menjadi nomor kesekian ketika seseorang berada di ambang kematian karena lapar.
Persoalannya, sasaran program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang dimaksud oleh Presiden tidak sedang berada dalam kondisi kelaparan ekstrem. Sebagian besar penerima program itu, menurut pengamatan yang beredar di masyarakat, justru mendapatkan asupan makanan yang jauh lebih bergizi di rumah masing-masing. Buktinya, ketika program tersebut libur atau sebagian dapur produksinya ditutup, tidak ada tanda-tanda kepanikan atau rasa kehilangan yang berarti.
Pernyataan itu, dengan demikian, dinilai telah menciptakan narasi tentang ancaman kelaparan ekstrem yang tidak sesuai dengan realitas di lapangan. Seorang pengamat yang juga dikenal sebagai dai, Ustadz Muhammad Abduh Negara, menilai bahwa sang pengucap sedang membangun "monster khayalan" bernama kelaparan ekstrem untuk mengesankan urgensi program yang dijalankannya. Padahal, faktanya tidak demikian.
Artikel Terkait
Gaji Guru Honorer Rp414 Ribu Setelah 40 Tahun Mengabdi, P2G: Ini Krisis Kesejahteraan yang Sistemik
Mahfud MD di Masjid Istiqlal: Ketakwaan Sejati Wujudkan dengan Menjaga Alam
Taufik Hidayat Tersangka Penganiayaan dan Penyekapan Pacar, Korban Buta dan Lumpuh
Pemadaman Listrik Mendadak Lumpuhkan Aktivitas Warga di Pasar Minggu