Indonesia Kuasai 60% Pasar Sawit Global, tapi Harga Masih Ditentukan Luar Negeri

- Rabu, 01 April 2026 | 08:00 WIB
Indonesia Kuasai 60% Pasar Sawit Global, tapi Harga Masih Ditentukan Luar Negeri

Kuncinya ada di hilirisasi. Bukan cuma urusan naikkan nilai tambah, tapi ini soal mengubah posisi strategis. Kalau sawit kita olah jadi biodiesel dan produk turunan lain di dalam negeri, kita tak lagi cuma jadi pengikut harga. Kita bisa mulai mempengaruhi pasar.

Dampaknya untuk ketahanan energi pun jelas. Pemerintah punya target ambisius produksi biodiesel 40 juta ton. Jika tercapai, impor solar bisa ditekan drastis. Ketergantungan pada energi luar negeri pun berkurang.

Tentu jalan ini tidak mulus. Begitu kita serius menghilirkan industri, tekanan dari luar langsung datang. Uni Eropa, misalnya, kerap mengeluarkan regulasi atas nama keberlanjutan yang terasa berat sebelah. Sawit dipersulit, sementara komoditas pesaing dapat perlakuan lebih lunak. Rasanya seperti standar ganda yang nyata.

Karena itulah, Indonesia harus berani mengambil alih kendali. Membangun industri hilir yang kuat, membuat acuan harga sendiri, dan bersinergi dengan negara produsen lain. Dengan cara itu, baru kita bisa dari sekadar pemain besar, menjadi pengarah pasar.

Dalam konteks ini, pemikiran Andi Amran Sulaiman yang melihat sawit sebagai kekuatan strategis patut diapresiasi. Ini bukan cuma soal komoditas, tapi instrumen untuk membangun kedaulatan.

Hilirisasi sawit adalah momentum bersejarah. Momentum untuk mengubah nilai ratusan triliun menjadi ribuan triliun. Momentum untuk mengakhiri paradoks ekspor bahan mentah dan impor energi. Dan yang paling penting, momentum untuk mengubah Indonesia dari follower menjadi trend setter.

Kalau momentum ini bisa kita tangkap dan kelola dengan baik, maka impian menjadi raksasa yang tak hanya besar produksinya, tapi juga kuasa atas harga dan pasar, bukanlah hal mustahil. Pada akhirnya, itulah makna kedaulatan ekonomi sejati: kekayaan alam negeri sendiri, dikelola untuk kemakmuran bangsanya sendiri.

Editor: Bayu Santoso


Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar