Juku Eja Menolak Kalah
Tapi PSM Makassar bukan tim sembarangan. Tertinggal dua gol justru membangkitkan naluri bertarung mereka. Perlahan, mereka mulai mengambil alih permainan. Savio Roberto menjadi pahlawan pertama kebangkitan itu di menit ke-70, memperkecil ketertinggalan menjadi 3-2. Gol itu seperti suntikan adrenalin bagi tim tamu.
Drama pun memuncak di sepuluh menit terakhir. Serangan PSM bagai gelombang yang tak henti menghantam pertahanan Malut. Tekanan itu akhirnya berbuah di menit ke-87. Medina Themopole, pemain yang baru masuk, sukses menuntaskan peluang dan membawa skor menjadi imbang 3-3! Stadion mendadak senyap, kecuali untuk segelintir suporter PSM yang histeris.
Belum selesai. Injury time menyimpan cerita lain. Malut United sempat berpesta karena Da Silva berhasil mencetak gol yang seolah jadi kemenangan. Tapi kegembiraan itu sirna seketika. Wasit memeriksa VAR, dan setelah menunggu dengan napas tertahan, gol itu dianulir. Ada pelanggaran di prosesnya. Peluit panjang akhirnya benar-benar mengakhiri pertandingan dengan angka 3-3.
Pertandingan ini punya segalanya: enam gol, dua kali comeback, dan kontroversi teknologi. Sebuah hasil yang adil, mungkin, untuk pertunjukan spektakuler yang ditampilkan kedua tim. Di sisi lain, satu poin rasanya kurang bagi keduanya yang sangat haus kemenangan di tengah persaingan ketat klasemen.
Laga ini adalah bukti bahwa Liga 1 masih mampu menyajikan tontonan berkualitas tinggi. Penuh passion, taktik, dan ketegangan sampai detik terakhir. Baik Malut United maupun PSM Makassar pulang dengan satu poin, plus cerita tentang sebuah pertandingan yang tak akan mudah mereka lupakan.
Artikel Terkait
FC Groningen Kalahkan Ajax Amsterdam 3-1 dalam Kejutan Eredivisie
Imbang 3-3, PSM Makassar Tersendat di Posisi 13 Liga 1
Nadiem Tegaskan Tak Beri Arahan Wajibkan Chromebook dalam Sidang Korupsi
Vidi Aldiano, Duta Persahabatan Indonesia, Meninggal Dunia di Usia 35 Tahun