Tiongkok Desak Penghentian Operasi Militer di Timur Tengah, Khawatir Konflik Meluas

- Sabtu, 07 Maret 2026 | 16:00 WIB
Tiongkok Desak Penghentian Operasi Militer di Timur Tengah, Khawatir Konflik Meluas

Ketegangan di Timur Tengah terus memanas. Pemerintah Tiongkok pun angkat bicara, mendesak penghentian segera semua operasi militer di kawasan itu. Seruan ini muncul menyusul konflik yang dipicu oleh serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran.

Di Beijing, juru bicara Kementerian Luar Negeri Mao Ning tak menyembunyikan kekhawatirannya. Menurutnya, situasi yang terus memanas ini sangat berbahaya dan berpotensi meluas ke mana-mana.

“Kami sangat prihatin dengan ketegangan yang terus berlangsung di Timur Tengah. Hal yang paling mendesak saat ini adalah segera menghentikan aksi militer, mencegah konflik meluas, dan menghindari eskalasi lebih lanjut,”

kata Mao kepada para wartawan.

Kekhawatiran bahwa api konflik bisa menjalar ke wilayah lain ternyata bukan isapan jempol belaka. Ini terbukti dari sebuah insiden di Nakhchivan, eksklave Azerbaijan, pada Kamis lalu. Wilayah itu diserang drone.

Akibatnya? Empat orang terluka dan infrastruktur penting rusak. Salah satu drone bahkan menghantam terminal Bandara Internasional Nakhchivan. Drone lain jatuh dekat sebuah sekolah di desa Shakarabad. Kejadian ini makin menguatkan sinyal bahaya.

Memang, pemicu utama semua ini adalah operasi militer besar-besaran Israel dan AS terhadap Iran yang sudah berjalan tujuh hari. Kabarnya, serangan itu menewaskan hampir 1.000 orang di pihak Iran. Korban yang disebut-sebut termasuk pemimpin tertinggi Ali Khamenei, sejumlah petinggi militer, dan puluhan pelajar perempuan.

Iran tak tinggal diam. Mereka membalas dengan meluncurkan drone dan rudal ke wilayah Israel serta negara-negara Teluk yang jadi lokasi pangkalan militer AS.

Editor: Novita Rachma


Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar