UEFA Investigasi Dugaan Penghinaan Prestianni terhadap Vinicius, Ancaman Skorsing Mengintai

- Jumat, 20 Februari 2026 | 03:00 WIB
UEFA Investigasi Dugaan Penghinaan Prestianni terhadap Vinicius, Ancaman Skorsing Mengintai

MURIANETWORK.COM - UEFA secara resmi membuka investigasi terhadap Gianluca Prestianni, pesepakbola Argentina berusia 20 tahun, atas dugaan penghinaan terhadap Vinicius Junior. Insiden yang berpotensi melanggar martabat manusia ini mengancam masa depan karier Prestianni di Eropa dengan ancaman skorsing minimal satu hingga dua musim penuh. Tekanan untuk sanksi tegas juga mengemuka, salah satunya dari rekan setim Vinicius di Real Madrid, Kylian Mbappe.

Proses Investigasi yang Mengandalkan Kesaksian

Badan pengatur sepak bola Eropa itu kini tengah mengumpulkan fakta. Prosesnya dinilai cukup rumit, mengingat Prestianni disebut memilih untuk tidak memberikan pernyataan terbuka. Akibatnya, UEFA akan sangat bergantung pada keterangan dari pemain-pemain yang berada di sekitar lokasi kejadian saat insiden itu terjadi. Nama-nama seperti Arda Guler, Eduardo Camavinga, dan Kylian Mbappe diharapkan dapat memberikan penjelasan krusial.

Kesaksian mereka di lapangan akan menjadi fondasi utama bagi panel disipliner untuk menentukan apakah tuduhan serius ini dapat dibuktikan.

Desakan Tegas dari Rekan Setim

Di tengah suasana menegangkan itu, Kylian Mbappe justru telah menyuarakan pendapatnya secara jelas. Penyerang Prancis itu tidak ragu menyerukan tindakan tegas jika pemain asal Argentina tersebut terbukti bersalah.

"Bahkan, Mbappe secara eksplisit meminta agar sang pemain tidak diizinkan tampil pada leg kedua yang akan digelar di Santiago Bernabeu," ungkapnya.

Pernyataan tersebut, yang datang dari salah satu bintang terbesar di dunia, semakin memperkuat sorotan publik terhadap kasus ini dan menekan UEFA untuk mengambil langkah yang jelas demi menjaga integritas olahraga.

Dampak Berat di Bawah Pasal 14

Landasan hukum yang mengancam Prestianni sangatlah serius. Pasal 14 Regulasi Disiplin UEFA mengatur sanksi untuk pelanggaran yang merendahkan martabat manusia, termasuk yang berdasarkan warna kulit atau latar belakang. Hukuman minimalnya adalah skorsing selama 10 pertandingan.

Dalam konteks Liga Champions, hukuman seberat itu praktis membuat seorang pemain absen untuk satu musim kompetisi penuh. Namun, untuk kasus yang dinilai parah, panel disipliner berwenang memperpanjang sanksi hingga dua atau bahkan tiga musim, sebuah keputusan yang akan sangat bergantung pada kedalaman dan hasil investigasi yang sedang berjalan.

Masa Depan yang Terancam di Ujung Tanduk

Situasi ini menjadi ironi yang pahit bagi Prestianni. Di usia yang masih sangat muda, di mana seorang pemain seharusnya fokus membangun fondasi kariernya di pentas Eropa, ia justru menghadapi ancaman yang bisa menghentikan laju tersebut secara drastis. Kasus ini menjadi pengingat keras bagi seluruh pelaku sepak bola bahwa tindakan di luar batas sportivitas, terutama yang menyangkut penghinaan personal, memiliki konsekuensi yang sangat nyata dan merusak.

Keputusan akhir UEFA kini dinantikan banyak pihak, tidak hanya untuk memberi keadilan dalam kasus spesifik ini, tetapi juga untuk mengirimkan pesan yang kuat tentang standar perilaku yang tidak bisa ditoleransi dalam sepak bola modern.

Editor: Handoko Prasetyo

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar