MURIANETWORK.COM - Utang Luar Negeri (ULN) Indonesia tercatat naik menjadi USD 431,7 miliar pada akhir tahun 2025. Peningkatan ini terutama didorong oleh masuknya modal asing ke dalam Surat Berharga Negara (SBN) yang diterbitkan pemerintah di pasar internasional, sebuah indikasi bahwa kepercayaan investor terhadap fundamental ekonomi Indonesia masih terjaga di tengah gejolak pasar global.
Pemerintah Kelola Utang dengan Prinsip Kehati-hatian
Meskipun nominalnya meningkat, otoritas menegaskan bahwa utang pemerintah dikelola dengan pendekatan yang sangat hati-hati dan terukur. Kebijakan pembiayaan ini dirancang untuk mendukung program-program prioritas tanpa mengorbankan kesehatan fiskal jangka panjang. Dengan kata lain, utang ditempatkan sebagai alat strategis untuk mendorong pertumbuhan ekonomi, bukan sekadar menutup defisit.
Utang Swasta Justru Menunjukkan Tren Penurunan
Berbeda dengan tren pemerintah, posisi utang luar negeri sektor swasta justru mengalami kontraksi. Pada triwulan IV-2025, ULN swasta menyusut menjadi USD 192,8 miliar dari sebelumnya USD 194,5 miliar di triwulan ketahun. Penurunan ini terutama disumbang oleh perusahaan-perusahaan di sektor non-keuangan yang memperketat pengelolaan liabilitasnya.
Dari sisi komposisi, utang swasta masih didominasi oleh sektor-sektor produktif seperti Industri Pengolahan, Jasa Keuangan dan Asuransi, Pengadaan Listrik dan Gas, serta Pertambangan. Keempat sektor ini menyumbang hampir 80 persen dari total ULN swasta. Selain itu, struktur utangnya juga relatif aman karena didominasi oleh pinjaman jangka panjang.
Struktur Utang Nasional Dinilai Tetap Sehat
Secara keseluruhan, otoritas memandang struktur utang luar negeri Indonesia masih dalam koridor yang sehat. Hal ini tercermin dari dua indikator kunci. Pertama, rasio ULN terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) berada di level yang terkendali, yaitu 29,9 persen. Kedua, komposisi utang didominasi oleh utang jangka panjang, yang memberikan ruang gerak lebih leluasa bagi perekonomian.
Dominasi utang jangka panjang ini, yang mencapai porsi 85,7 persen dari total ULN, mengurangi kerentanan terhadap gejolak likuiditas jangka pendek. Kondisi ini memberikan fondasi yang lebih stabil bagi perekonomian dalam menghadapi ketidakpastian eksternal.
Artikel Terkait
BEI Cabut Suspensi Perdagangan Lima Saham Usai Emiten Lunasi Kewajiban
Bank Mandiri Catat Laba Rp18,6 Triliun di Triwulan IV-2025, Melampaui Proyeksi Pasar
Ramadan Bukan Alasan Boros, Ini 5 Tips Kelola Keuangan
TRON Diversifikasi ke Infrastruktur Kendaraan Listrik Usai RUPSLB