Di tengah upaya pemulihan pascabencana di Sumatra, langkah cepat Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman mendapat sorotan. Wakil Ketua DPR RI, Sufmi Dasco Ahmad, secara khusus memuji langkah itu. Menurutnya, apa yang dilakukan Amran patut jadi contoh bagi kementerian dan lembaga lain.
“Terima kasih kepada Bapak Menteri Pertanian atas dipersiapkannya lebih dari cukup kebutuhan beras saudara-saudara kita di sana,” kata Dasco dalam sebuah rapat koordinasi di Senayan, Rabu lalu.
Dasco menambahkan, “Dan juga pergeseran-pergeseran anggaran yang dianggap mungkin untuk memenuhi sementara kebutuhan yang mungkin bisa dicontoh oleh kementerian lain.”
Dalam paparannya, Amran yang juga menjabat Kepala Badan Pangan Nasional (Bapanas) membeberkan rincian bantuan. Ada bantuan reguler lewat Bapanas senilai sekitar Rp1 triliun. Tak cuma itu, ada juga bantuan nonreguler melalui mitra dan program Kementan Peduli yang nilainya mencapai Rp75,8 miliar.
Namun begitu, langkah strategis tak berhenti di situ. Kementerian Pertanian juga melakukan pergeseran anggaran reguler. Tujuannya jelas: mempercepat pemulihan sektor pertanian yang porak-poranda.
Mentan Amran menjelaskan, kebutuhan anggaran pemulihan total diperkirakan tembus Rp4,7 triliun. Angka yang tidak kecil.
“Izin pimpinan, kami sudah sampaikan ke Bappenas dan juga Menteri Keuangan. Anggaran reguler kami gunakan Rp1,49 triliun pada 2025, kemudian 2026 kami geser, dan masih membutuhkan tambahan 2026 Rp2,1 triliun serta 2027 Rp1,1 triliun,” jelasnya.
“Total Rp4,7 triliun, tetapi kami sudah geser anggaran Rp1,4 triliun anggaran reguler dari Kementerian Pertanian,” sambung Amran.
Di sisi lain, soal ketersediaan pangan di lapangan dipastikan aman. Amran menyebut stok beras untuk wilayah terdampak mencapai sekitar 100 ribu ton. Jumlah itu kira-kira cukup untuk memenuhi kebutuhan masyarakat selama tiga bulan ke depan.
“Insyaallah sektor pertanian khususnya ketersediaan pangan di lapangan cukup untuk tiga bulan ke depan,” ungkapnya meyakinkan.
Progres pemulihan lahan sawah juga mulai terlihat. Dari total 94 ribu hektare lahan yang rusak, sekitar 39 ribu hektare sudah ditanami kembali. Prosesnya berjalan, meski masih panjang.
“Hari ini kita sudah kirim dan penanaman kurang lebih 39 ribu hektare,” ucap Amran.
Yang menarik, ada kabar baik dari lapangan. Di beberapa wilayah seperti Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat, material yang menimbun sawah justru mengandung humus yang subur. Artinya, pekerjaan rehabilitasi jadi lebih sederhana.
“Ada kabar yang menggembirakan. Untuk sawah-sawah yang rusak dan direhab, tanah longsoran itu adalah humus dan cukup subur, sehingga hanya irigasi yang kita perbaiki dan langsung kita melakukan penanaman,” terangnya.
Dengan dukungan anggaran yang lebih fleksibel dan percepatan rehabilitasi, Amran menekankan sektor pangan dipastikan tetap aman. Apalagi stok pangan nasional secara keseluruhan masih kuat, berada di angka 3,5 juta ton.
Langkah terukur dan cepat ini, pada akhirnya, menunjukkan sebuah komitmen. Pemerintah berusaha menjaga stabilitas pangan nasional tetap kokoh, bahkan di tengah situasi darurat sekalipun. Sinergi antara pemerintah pusat, DPR, dan berbagai pihak diharapkan terus menguat, bukan hanya untuk ketahanan pangan, tapi juga untuk memulihkan ekonomi masyarakat yang paling terdampak.
Artikel Terkait
Kiper Muda Berdarah Indonesia Jalani Trial di Atletico Madrid
Tilanga Natural Pool, Kolam Purba Toraja dengan Air Jernih dan Legenda Masapi
Anggota DPR Kritik Wacana Jokowi Kembalikan UU KPK ke Versi Lama
BMKG Peringatkan Potensi Angin Kencang di Makassar Meski Cuaca Didominasi Berawan