"Awalnya banyak salah paham. Dipikir ini harus seperti perusahaan swasta dari hulu ke hilir. Enggak," jelasnya.
"Pemerintah di hulu sebagai stabilisator. Jadi nanti bergeraknya BUMN di hulu, itu di pakan dan DOC. Ini menjamin suplai ke peternak kecil. Peternak kecil ikut nanti," terang Amran.
Ada alasan strategis lain kenapa BUMN yang dilibatkan. Dengan garis komando yang jelas ke pemerintah, kebijakan stabilisasi bisa dijalankan dengan lebih konsisten. Dan yang penting, tegas saat ada yang coba main-main.
"Kenapa BUMN kita libatkan? Kalau BUMN-nya macam-macam kita copot. Sederhana kan?" ungkapnya.
"Dan ini pemerintah. Enggak mungkin macam-macam direksinya. Garis komando. Kalau naikkan harga atau menyusahkan peternak, ya dia ditindak," tegas Mentan.
Langkah konkretnya sudah mulai berjalan. Pada Jumat pekan lalu, Danantara melakukan groundbreaking proyek pengembangan ayam terintegrasi fase pertama di enam lokasi.
Program yang diinisiasi Amran ini pada dasarnya adalah langkah antisipatif. Tujuannya jelas: memastikan pasokan daging ayam dan telur nasional aman, merata, dan berkelanjutan. Apalagi kebutuhan nasional terus meningkat, terutama untuk mendukung program-program strategis seperti Makan Bergizi Gratis.
Artikel Terkait
Anggota DPR Nilai PP TUNAS Bentuk Perlindungan Jangka Panjang bagi Anak
17 Warga Gugat Ditreskrimum Polda Metro Jaya atas Penanganan Kasus Ijazah Jokowi
Putri Wakil DPRD Sulsel Kelola 41 Dapur Makanan Gratis Senilai Rp61,5 Miliar
Idrus Marham Kritik Komunikasi Pemerintah, Juru Bicara dan Menteri Dinilai Belum Maksimal