Di sebuah tongkonan megah di Tana Toraja, suasana hening namun khidmat menyelimuti sidang adat yang digelar Selasa lalu. Pandji Pragiwaksono, komika yang namanya ramai diperbincangkan, akhirnya menyelesaikan proses hukum adat terkait materi lawak lamanya. Ia dijatuhi denda: satu ekor babi dan lima ekor ayam. Sanksi itu diterimanya dengan sikap terbuka.
Bagi orang Toraja, denda hewan bukan cuma soal ganti rugi simbolis. Lebih dari itu, hewan-hewan itu nantinya akan dipakai dalam ritual khusus. Fungsinya untuk penyucian, semacam penebusan kesalahan yang sudah terjadi. Ini adalah inti dari prosesi Ma’ Buak Burun Mangkaloi Oto’ yang dihadiri perwakilan dari 32 wilayah adat se-Toraja. Sidang ini sendiri menjadi jalan rekonsiliasi yang berlandaskan kearifan lokal antara Pandji dan masyarakat setempat.
Dalam forum yang dihadiri para tetua itu, Pandji tak cuma diam. Ia menyampaikan permohonan maaf dan menjawab setiap pertanyaan yang dilontarkan. Yang menarik, ia mengakui secara gamblang soal kekeliruan dalam riset materinya. Menurutnya, sudut pandang yang dipakai saat itu masih sangat dangkal, hanya melihat Toraja dari luar tanpa mencoba memahami nilai budayanya secara menyeluruh.
“Harusnya, saya memakai kacamata ‘Toraja’ untuk melihat Toraja secara sisi lainnya juga,” ujarnya.
Di sisi lain, para tetua adat tak lupa menyampaikan pesan moral. Mereka menekankan prinsip “tabur tuai” yang jadi pedoman hidup masyarakat Toraja. Intinya, setiap perbuatan punya konsekuensinya sendiri. Pesan itu sekaligus jadi pengingat agar kejadian serupa tidak terulang di kemudian hari.
“Jika di masa depan Pandji kembali melakukan hal serupa yang berdampak buruk bagi Toraja, maka diyakini berkat-berkat tidak akan mengalir kepadanya,” jelas seorang tetua adat.
Semua ini berawal dari sebuah video lawakan lama Pandji yang tiba-tiba viral lagi beberapa waktu lalu. Konten itu memicu polemik cukup luas di publik. Nah, sidang adat di Tongkonan Layuk Kaero itu bisa dibilang menjadi penutup yang elegan untuk seluruh episode tersebut. Pandji menuntaskan tanggung jawabnya, masyarakat Toraja menegakkan hukum adat dengan cara yang penuh makna. Semua kembali tenang.
Artikel Terkait
Monumen Cinta Habibie-Ainun Jadi Ikon dan Ruang Publik di Parepare
Langkosek, Camilan Tradisional Makassar, Bertahan di Tengah Gempuran Kudapan Modern
Prabowo Perintahkan Percepatan Teknologi Olah Sampah Skala Mikro
Dua Pilot Tewas Ditembak KKB Usai Pesawat Mendarat di Bandara Korowai