"Buku ini memang bersifat jejak perjalanan sepanjang 70 tahun kehidupan saya… mulai umur 20 tahun ketika saya aktif sebagai mahasiswa dan mulai terlibat dalam pergerakan-pergerakan sosial dan politik," jelasnya.
Yang membuat kumpulan buku ini unik adalah proses penulisannya yang melibatkan rekan, kolega, dan pengamat, memberikan perspektif yang beragam tentang kiprahnya. Untuk memastikan akses seluas mungkin, Yusril dengan sukarela menyediakan versi digitalnya secara gratis.
"Siapa yang mau mengunduh, silakan saja… makin banyak buku dibaca orang, makin bagus dan makin tersebarlah ide-ide yang ada di dalam buku-buku itu," ungkapnya.
Karier Strategis di Berbagai Era Pemerintahan
Rekam jejak Yusril Ihza Mahendra dalam pemerintahan memang mengesankan, menunjukkan kepercayaan yang berulang kali diberikan oleh para pemimpin nasional. Pakar hukum tata negara ini telah menduduki berbagai posisi kunci, dimulai sebagai Menteri Hukum dan Perundang-undangan di era Presiden Abdurrahman Wahid (Gus Dur), kemudian Menteri Kehakiman dan HAM di bawah Presiden Megawati Soekarnoputri.
Kiprahnya berlanjut sebagai Menteri Sekretaris Negara pada masa kepemimpinan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, dan kini memegang jabatan Menko Hukum dan HAM di kabinet Presiden Prabowo Subianto. Perjalanan panjang ini menempatkannya sebagai salah satu arsitek hukum yang konsisten terlibat dalam pembentukan kebijakan dan penguatan sistem ketatanegaraan Indonesia.
Ragam Buku yang Mengabadikan Gagasan
Kedelapan buku yang diluncurkan mencakup spektrum yang luas, dari otobiografi pribadi hingga analisis mendalam tentang pemikiran politik dan hukum. Beberapa judul yang diperkenalkan antara lain The Untold Stories of Prof. Dr. Yusril Ihza Mahendra, Pemikiran Politik Yusril Ihza Mahendra, Keadilan yang Memulihkan, serta novel biografis berjudul Di Mana Bumi Dipijak.
Kumpulan karya ini tidak hanya mencatat peristiwa, tetapi lebih jauh, mendokumentasikan gagasan-gagasan Yusril tentang konstitusi, demokrasi, dan relasi agama dengan negara. Dengan demikian, buku-buku tersebut menjadi bagian tak terpisahkan dari khazanah intelektual dan diskursus kebangsaan di Indonesia.
Artikel Terkait
Komposer Legendaris Lebo M Gugat Komedian Zimbabwe Rp 400 Miliar Atas Parodi The Lion King
Mohamed Sahah Resmi Tinggalkan Liverpool Lewat Surat Terbuka yang Haru
Momentum Positif, Peluang 86%: Michael Carrick Kandidat Utama Kursi Pelatih Permanen MU
Enam Tewas dalam Kecelakaan Minibus di Majalengka