MURIANETWORK.COM - Baruasak, kue tradisional khas Bugis-Makassar, lebih dari sekadar camilan manis. Kue bulat renyah ini, yang terbuat dari tepung beras sangrai, kelapa parut, dan gula, merupakan bagian tak terpisahkan dari berbagai momen penting dalam budaya masyarakat Sulawesi Selatan. Hadir dalam dua varian utama dengan gula pasir atau gula merah Baruasak kerap menemani acara adat, perayaan keluarga, atau sekadar menjadi teman santai menikmati teh dan kopi di sore hari.
Keunikan Baruasak terletak pada proses pembuatannya yang memerlukan ketelitian. Bahan utamanya, kelapa parut dan tepung beras, harus disangrai hingga matang sempurna untuk mendapatkan aroma harum yang khas. Proses ini bukan hanya soal teknik, tetapi juga bentuk penghormatan terhadap resep warisan yang telah turun-temurun.
Dua Varian dengan Cita Rasa Berbeda
Meski berasal dari adonan dasar yang sama, pemilihan jenis gula memberikan karakter yang berbeda pada Baruasak. Varian pertama menggunakan gula pasir, menghasilkan rasa manis yang bersih dan tekstur yang cenderung lebih ringan. Sementara itu, varian kedua, yang dalam bahasa Makassar disebut Baruasak Golla' (gula merah), menawarkan kompleksitas rasa dengan sentuhan karamel dan aroma yang lebih pekat.
Pilihan antara keduanya seringkali bergantung pada selera pribadi atau tradisi keluarga. "Kedua varian sama-sama nikmat, tapi kalau suka aroma karamel yang khas, pilih yang pakai gula merah," tutur seorang pemerhati kuliner tradisional.
Resep dan Cara Membuat Baruasak
Untuk menghasilkan sekitar tiga toples Baruasak yang renyah, diperlukan bahan-bahan seperti telur, gula pasir, gula merah, kelapa parut sangrai, tepung terigu protein rendah, minyak goreng, tepung kanji, baking soda, dan ekstrak vanila. Kunci keberhasilannya terletak pada kesabaran dan ketepatan dalam setiap tahap.
Pertama, kelapa parut yang telah disangrai hingga kecokelatan perlu dihaluskan dengan tepat tidak terlalu kasar namun juga tidak sampai berminyak. Selanjutnya, telur dan gula dikocok hingga mengembang sebelum dicampur dengan bahan kering dan minyak. Adonan yang telah tercampur rata kemudian dibentuk menjadi bulatan-bulatan kecil.
Proses pemanggangan di oven yang telah dipanaskan sebelumnya menjadi penentu akhir. Bulatan adonan perlu dipanggang selama 20 hingga 30 menit hingga matang merata dan berwarna keemasan. Pengamatan visual dan penciuman sering kali menjadi panduan yang lebih akurat daripada sekadar mengikuti waktu.
Tips Penting untuk Hasil yang Optimal
Beberapa kiat praktis dapat membantu memastikan Baruasak buatan sendiri sukses. Mengolesi tangan dengan minyak saat membentuk adonan akan mencegah lengket. Meski menggunakan kertas roti, mengolesinya tipis-tipis dengan minyak tetap disarankan agar dasar kue tidak menempel. Yang tak kalah penting, simpan Baruasak yang telah dingin dalam toples kedap udara untuk mempertahankan kerenyahannya dalam waktu lama.
Keberadaan Baruasak di tengah masyarakat Bugis-Makassar memang telah melampaui fungsi dasarnya sebagai makanan. Kue ini adalah perekat kebersamaan, pengingat akan tradisi, dan penanda sebuah sukacita. Setiap gigitan yang renyah, harum, dan manis itu bukan hanya memanjakan lidah, tetapi juga menyampaikan cerita panjang tentang warisan kuliner yang terus hidup dan dihargai.
Artikel Terkait
Tabrakan Beruntun di Tol Ngawi-Solo Akibat Pengereman Mendadak, Tiga Orang Terluka
Prabowo Undang Australia Bentuk Joint Venture Pertanian
Kecelakaan Beruntun di Tol Surabaya-Gempol Diduga Akibat Hilang Konsentrasi
Gerindra Minta Maaf dan Copot Atribut HUT Usai Kritik Masyarakat