Dia pun segera menghubungi si pemesan, Adi, untuk klarifikasi. Alih-alih meminta maaf, respons yang diterima justru mengejutkan.
"Saya nanya malah dia balik nyuruh-nyuruh. 'Kon bayar utange mbak e, bayar utange Rp 14 juta'," ungkap Aldy. Setelah itu, nomornya langsung diblokir. Sopir ambulans lain yang mencoba menelepon juga mendapat jawaban serupa: semua tentang penagihan utang. "Ngakunya dari pinjol," tambah Aldy.
Akibat ulah ini, kerugian yang diderita cukup nyata. Waktu, tenaga, dan biaya operasional mobil, semuanya hangus. "Ya, enggak ada yang ngeganti. Mintanya mbaknya kasihan. Rugi waktu, uang bensin, tenaga," keluhnya. "Baru pertama kali dapat begini, semoga jangan terulang lagi."
Ia kesal bukan main. Ambulans, yang seharusnya jadi penolong di saat genting, malah dijadikan alat tekanan untuk menagih utang. "Kalau ada pasien yang benar-benar darurat gimana? Jangan gitu lah," protes Aldy.
Lewat kejadian ini, Aldy berpesan keras pada para debt collector mana pun. Carilah cara lain yang lebih elegan, jangan sampai mengganggu pekerjaan dan layanan orang lain yang sama sekali tak ada sangkut pautnya dengan urusan utang-piutang.
Artikel Terkait
Persoalan Kertas yang Merenggut Nyawa: Bocah 10 Tahun Bunuh Diri Usai Keluarga Tak Kebagian Bansos
Akhir Tragis Sang Raja Penipuan Online di Perbatasan Myanmar
KPK Bergerak Lagi, OTT Sasar Pejabat Bea Cukai
Kapal Induk dan Ancaman Lama: AS Kembali Mainkan Skrip Usang di Teluk Persia