Suasana di Sisimiut, Greenland, pagi itu ramai oleh deru kaki dan tarikan napas. Ratusan anjing penarik kereta salju berlarian di area yang oleh warga setempat dijuluki "Kota Anjing". Kejadian itu berlangsung awal Februari lalu. Bayangkan saja, kawasan khusus di luar pusat kota itu menjadi rumah bagi sekitar seribu ekor anjing suara gonggongan mereka seolah sudah jadi soundtrack khas daerah tersebut.
Nah, kenapa anjing-anjing itu tidak tinggal di dalam kota? Aturannya memang begitu. Pemerintah setempat punya kebijakan yang melarang mereka hidup di permukiman penduduk. Tujuannya sederhana: menjaga kebersihan dan juga keselamatan lingkungan. Jadi, "Kota Anjing" benar-benar jadi dunia mereka sendiri.
Di sisi lain, tradisi kereta salju yang ditarik anjing ini bukan cuma sekadar hobi. Bagi Sisimiut, yang letaknya di selatan Greenland, ini adalah warisan yang dijaga ketat. Mereka termasuk sedikit wilayah selatan yang masih mempertahankannya. Alasannya kuat: ada aturan ketat yang melarang anjing penarik kereta salju dibawa melintasi Lingkaran Arktik ke selatan, lalu kembali lagi ke utara.
Kebijakan itu punya maksud khusus: menjaga kemurnian garis keturunan anjing Greenland. Jadi, bukan cuma soal olahraga atau transportasi tradisional belaka.
Pada akhirnya, tradisi ini telah menyatu dengan budaya lokal. Lebih dari itu, ia memainkan peran krusial dalam melestarikan warisan dan identitas masyarakat Arktik. Ia adalah napas yang hidup, penghubung antara masa lalu dan masa kini di tengah dinginnya Greenland.
Artikel Terkait
Tiga Nyawa Melayang di Tol Cipali Diduga Akibat Kurang Antisipasi
DIY Siapkan Rp4,5 Miliar untuk Tekan Stunting hingga 8,4%
Tere Liye Sindir Pejabat: Logika Kalah-Menang Bisa Picu Aceh Ingin Merdeka
PBNU Dukung, Muhammadiyah dan MUI Ragu: Keanggotaan Indonesia di Board of Peace Picu Polemik