Bogor – Di tengah perbincangan hangat soal posisi Indonesia di panggung dunia, suara Prof. Dr. Irfan Syauqi Beik mencuat dengan nada tegas. Pakar Ekonomi Syariah ini mendesak masyarakat untuk tak ragu menggunakan hak suaranya. Tujuannya jelas: mendorong negara agar konsisten membela perjuangan kemerdekaan Palestina. Hal ini ia sampaikan, salah satunya, menyikapi rencana keikutsertaan Indonesia dalam Board of Peace yang digagas Amerika Serikat.
Bagi Irfan, isu Palestina ini jauh melampaui sekadar urusan politik luar negeri biasa. Ia melihatnya sebagai sebuah panggilan yang lebih mendasar. “Kita harus tetap memperjuangkan kemerdekaan Palestina,” tegasnya.
“Itu adalah panggilan konstitusi, panggilan agama, sekaligus panggilan kemanusiaan.”
Pernyataan itu ia lontarkan dalam sebuah kajian di Masjid Ibn Khaldun, Bogor, pada Ahad lalu. Menurutnya, konsistensi Indonesia di berbagai forum internasional adalah kunci.
Namun begitu, dukungan moral saja tak cukup. Irfan juga menyoroti satu hal yang kerap luput dari pembicaraan: kekuatan nyata. Ia meyakini, sikap politik luar negeri yang berani termasuk dukungan penuh untuk Palestina akan lebih didengar dan dipertimbangkan jika Indonesia punya posisi strategis yang kuat. Kekuatan militer yang mumpuni, misalnya, membuat sebuah negara tidak dipandang sebelah mata.
“Dengan kekuatan itu, ketika kita bersikap mendukung Palestina, sikap tersebut akan lebih dipertimbangkan,” jelasnya. Intinya, kita harus punya ‘bargaining power’ yang solid.
Di sisi lain, ia menegaskan peran aktif masyarakat. Setiap warga negara punya hak dan kewajiban untuk mengkritisi. Apalagi jika ada kebijakan yang dinilai melenceng dari prinsip keadilan. Kritik yang konstruktif, dalam pandangannya, justru adalah wujud nyata kebebasan berpendapat yang dijamin konstitusi.
“Tugas kita adalah terus mengkritisi. Itu hak kita semua,” kata Guru Besar IPB University itu dengan nada meyakinkan.
Irfan lalu mengajak kita melihat ke belakang, mengingat sebuah fakta sejarah yang tak boleh terlupa. Palestina, tuturnya, adalah salah satu negara pertama yang mengakui kemerdekaan Indonesia. Karena itu, membela mereka sekarang bukan cuma soal solidaritas, tapi juga bentuk balas budi dan rasa syukur.
“Salah satu ciri bangsa yang bersyukur adalah tidak melupakan jasa pihak yang pernah berjasa,” tegasnya. “Kalau kita tidak bersyukur, berarti kita tidak berterima kasih kepada Allah.”
Di akhir penyampaiannya, ia mengajak semua pihak untuk tak berhenti bergerak. Gerakan anti-zionisme harus terus dikumandangkan. Pembelaan bisa diwujudkan lewat doa, kontribusi sesuai kemampuan, dan yang tak kalah penting: terus mempelajari dinamika geopolitik dengan cermat.
“Sebagai rakyat, kita terus gunakan hak kita untuk menyuarakan kebenaran,” pungkas Irfan. Pesannya sederhana namun berat: tetap berada di barisan perjuangan, sambil tetap kritis membaca situasi yang terus berubah.
Artikel Terkait
Mobil Boks Terguling di Jalur Banjar-Pangandaran, Sopir Terjebak Dua Jam
Kericuhan Usai Persib Kalahkan Bhayangkara, Suporter Lempar Flare ke Arah Steward
Shakhtar Donetsk Jamu Crystal Palace di Semifinal Conference League di Polandia Akibat Perang
Braga dan Freiburg Bersaing Ketat di Semifinal Liga Europa, Leg Kedua Jadi Penentu