Artinya, wacana "dua periode" ini bisa dibilang adalah rencana ketiga Jokowi pasca-pelantikan. Rencana pertama: memposisikan Gibran layaknya presiden. Kedua: mengukuhkan pasangan itu hingga 2029. Lalu yang ketiga ini. Apakah akan ada rencana keempat? Bisa saja, jika yang ketiga ini juga mentok seperti sebelumnya.
Saya sepakat dengan analisis Arie Putra dari Channel Total Politik, yang menyebut Jokowi sebagai "teknokrat elektoral". Seorang teknokrat elektoral itu tak banyak berfilsafat. Tujuannya tunggal: raih suara terbanyak dan menang. Cara apapun akan ditempuh, tahan banting, dan fokusnya tak pernah goyah.
Jokowi sendiri tahu, jalan menuju "dua periode" itu tak mudah. Ia mengakui, skema seperti ini belum pernah terjadi. Tapi sebagai teknokrat elektoral, ia tak akan gegabah melompat ke rencana keempat misalnya skenario Gibran melawan Prabowo seperti dibayangkan Ahmad Ali. Prinsipnya: sabar, langkah demi langkah.
Sekarang, yang sedang diupayakan Jokowi adalah bagaimana membuat Prabowo tak punya pilihan lain selain menjalankan rencana ketiganya. Syaratnya: elektabilitas Gibran harus melambung tinggi, dan PSI harus solid serta besar. Kalau tidak, ya gagal lagi. Sederhana saja.
Namun begitu, saya punya pandangan lain tentang Prabowo. Ia sudah berhasil melewati belenggu pertama dan kedua dari Jokowi. Maka, sangat mungkin belenggu ketiga ini juga akan ia lewati. Banyak yang mengira Jokowi tak terkalahkan, tapi lupa bahwa Prabowo sudah masuk ke dalam sistem sejak 2019. Bisa jadi, dialah yang sekarang lebih canggih. Ingat saja, ia berani teriak "Hidup Jokowi" di depan Jokowi sendiri justru saat ia berhasil membebaskan diri dari belenggu itu.
Oleh: Erizal
Artikel Terkait
Bumi Memanas Lebih Cepat, KLHK Buru-buru Tinjau Ulang Tata Ruang
Kematian di Tangan ICE: Krisis Kepercayaan dan Gelombang Protes yang Mengguncang Amerika
John Sitorus Sindir Siti Nurbaya Usai Rumahnya Digeledah: Gabung Saja ke PSI
Brian Yuliarto Buka Kartu: Kampus dan Industri Harus Jalin Kolaborasi Nyata untuk Pacu Ekonomi