Pertama, adalah seorang imam shalat. Bukan sembarang imam. Dia adalah orang yang membaca dan menghayati Al-Qur’an dengan tulus, hanya untuk Allah. Niatnya bersih, jauh dari keinginan dipuji. Dan yang menarik, jamaah yang dipimpinnya pun merasa ridha dan nyaman dengannya. Jadi, ada harmoni di sana antara ketulusan imam dan penerimaan makmum.
Lalu, golongan kedua adalah muadzin. Suaranya setiap hari membelah udara, mengajak orang untuk menunaikan shalat lima waktu. Lagi-lagi, kuncinya ada di niat. Dia melantunkan azan itu bukan untuk dicap sebagai suara merdu atau dianggap alim. Semata-mata mengharap rida Allah. Dalam keributan hari kiamat, panggilan ikhlasnya dulu yang justru memberinya keteduhan.
Nah, yang ketiga ini mungkin paling relevan dengan banyak dari kita. Dia adalah seorang hamba, atau pekerja, yang menjaga dua hubungan dengan baik. Hubungannya dengan Allah, dia jaga lewat kewajiban ibadah. Hubungannya dengan majikan atau atasannya, dia rawat dengan integritas dan kerja yang maksimal.
Dia bukan sekadar bekerja. Dia mengemban amanah. Hasil kerjanya membuat tuannya tidak kecewa, bahkan senang. Relasi yang harmonis ini, yang dibangun dengan kejujuran dan tanggung jawab, ternyata punya nilai luar biasa di akhirat.
Poin terakhir ini penting untuk direnungkan. Di sekitar kita, banyak yang berstatus sebagai karyawan, buruh, atau pegawai. Pesannya jelas: lakukan pekerjaan sebaik mungkin. Jangan asal-asalan. Niatkan sebagai ibadah. Dengan begitu, selain mendapat kepercayaan di dunia, kita juga berharap pada perlindungan Allah di akhirat nanti. Menjadi bagian dari golongan yang diberi kemudahan, duduk di bukit kesturi, sambil menunggu seluruh perhitungan selesai.
Artikel Terkait
Ribuan Pejabat Serbu Sentul, Warga Diminta Waspadai Macet
Duka dan Tuntutan Ibu di Deli Serdang: Anaknya Tewas di Kapal Korea, Hak Asuransi Masih Mengambang
Bareskram Bongkar Kasus Saham Gorengan, IHSG Anjlok Terimbas
Di Balik Viralnya Lea: Perjuangan Seorang Ibu Melawan Kanker di Rumah Kontrakan Hijau