Menteri Rachmat: Jangan Beri Kail, Kalau Orangnya Sudah Keburu Meninggal

- Jumat, 30 Januari 2026 | 15:40 WIB
Menteri Rachmat: Jangan Beri Kail, Kalau Orangnya Sudah Keburu Meninggal

Di tengah hiruk-pikuk pembahasan soal penciptaan lapangan kerja, Menteri PPN/Kepala Bappenas Rachmat Pambudy justru mengangkat isu yang dianggapnya lebih mendesak. Menurutnya, Program Makan Bergizi Gratis (MBG) adalah kebutuhan yang tak bisa ditunda-tunda. Meski begitu, ia tak menafikan bahwa lapangan kerja tetap penting bagi pembangunan nasional.

Pandangannya ini, diakui Rachmat, kerap memicu perdebatan. "Sering saya ditanya, mengapa MBG dianggap penting? Apakah MBG lebih penting dibanding membuka lapangan kerja?" ujarnya dalam Prasasti Economic Forum 2026 di Jakarta, Kamis lalu.

Ia lalu menjelaskan. Bukan berarti kedua hal itu dipertentangkan. "MBG penting, lapangan kerja juga penting. Tapi dalam kondisi tertentu, MBG lebih mendesak," tegasnya.

Logikanya sederhana. Di sejumlah wilayah Indonesia, masih banyak masyarakat yang berjuang memenuhi kebutuhan paling dasar: pangan dan gizi. Penciptaan lapangan kerja memang krusial, tapi itu adalah pendekatan jangka panjang. Sementara di daerah-daerah terpencil, ada yang masih menghadapi kelaparan. Bagaimana mungkin bicara soal kail, kalau orang yang akan memakainya sudah kehabisan tenaga?

"Ada yang bilang jangan beri ikan, beri kail. Tapi kalau hanya diberi kail, orangnya sudah keburu meninggal," kata Rachmat, menggambarkan situasi darurat yang ia maksud.

Dengan nada prihatin, ia mengajak hadirin membayangkan kondisi nyata. "Coba lihat saudara-saudara kita di pelosok desa. Mereka lapar, mereka kelaparan."

Bagi Rachmat, pemenuhan gizi ini adalah fondasi. Tanpa fondasi yang kuat, pembangunan sumber daya manusia mustahil berjalan efektif. Setelah kebutuhan dasar terpenuhi, barulah kebijakan lain seperti penciptaan lapangan kerja bisa memberikan dampak yang benar-benar berkelanjutan.

Program MBG sendiri bukan lagi wacana. Sebelumnya, Presiden Prabowo Subianto sudah menyinggungnya di forum internasional, World Economic Forum di Davos. Dengan sedikit berkelakar, Prabowo menyebut program ini akan melampaui capaian raksasa makanan cepat saji, McDonald's.

"Hingga tadi malam, kami telah memproduksi 59,8 juta porsi makanan per hari untuk anak-anak, ibu, dan lansia yang hidup sendiri," ujar Prabowo di Davos.

Targetnya ambisius: mencapai 82,9 juta porsi per hari. Angka itu berarti menyalip McDonald's yang saat ini melayani sekitar 68 juta porsi. Menariknya, Prabowo menyebut Indonesia hanya butuh sekitar setahun untuk mencapainya.

Sebagai perbandingan, McDonald's memulai dapur pertamanya pada 1940 dan butuh waktu puluhan tahun sekitar 55 tahun untuk sampai di angka tersebut.

Program yang resmi dimulai awal Januari 2025 ini berkembang pesat. Dari hanya 190 dapur yang memproduksi 570 ribu porsi, kini telah ada lebih dari 21 ribu unit dapur yang beroperan di seluruh penjuru Indonesia. Perkembangannya memang luar biasa, dan sepertinya akan terus menjadi perbincangan hangat, baik di dalam maupun luar negeri.

Editor: Melati Kusuma

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar