Astaga, Kita Masih Terjajah? Kritik Sutoyo Soal Dominasi RRC dan Penguasa yang Limbung

- Jumat, 30 Januari 2026 | 11:50 WIB
Astaga, Kita Masih Terjajah? Kritik Sutoyo Soal Dominasi RRC dan Penguasa yang Limbung

Indonesia Masih Dijajah? Skema RRC dan Penguasa yang Limbung

Kritik tajam kembali dilontarkan terhadap kedaulatan nasional. Kali ini datang dari Sutoyo Abadi, sang Koordinator Kajian Politik Merah Putih. Ia punya pandangan yang suram. Menurutnya, Indonesia hingga detik ini belum benar-benar merdeka. Kita, katanya, masih terjebak dalam "kegelapan" karena pengaruh asing yang begitu kuat, terutama dari Republik Rakyat China.

"Astaga," ujarnya, memulai pernyataan yang penuh keprihatinan. Kata itu ia lontarkan sebagai bentuk keheranan sekaligus kepedihan.

"Kekuatan gendam apa yang menutup kedunguan penguasa bangsa ini sehingga Indonesia tetap dalam kegelapan," tanya Sutoyo kepada para wartawan, Jumat lalu.

Baginya, penjajahan masa kini tak lagi pakai serdadu atau tank. Caranya lebih halus, sistematis, dan terstruktur. Ia menuding ada agenda besar dari Persatuan Komunis Chung Kuo Internasional Pusat RRC yang dijalankan lewat politik dan ekonomi. Pintu masuknya? Ia menyoroti 23 Nota Kesepahaman yang diteken Indonesia dan RRC usai KTT Belt and Road Initiative di Beijing, April 2019 silam. Dokumen itu, dalam pandangannya, adalah langkah awal penguasaan yang sangat strategis.

"Tragis, sadis, dan ironis," katanya tanpa tedeng aling-aling.

"Prosesnya berjalan mulus dengan memerankan Presiden Jokowi sebagai boneka dan operator RRC yang menggilas Nusantara."

Logikanya sederhana: penjajahan modern tak butuh kekerasan. Cukup ciptakan ketergantungan. Buat para elite, dari pusat sampai daerah, bergantung pada "angpao". Mereka diberi remah-remah dari jarahan sumber daya alam agar tetap patuh dan jinak. Skema itu, klaim Sutoyo, sudah merasuk ke semua sendi kehidupan. Mulai dari ideologi, politik, sampai ke pertahanan dan keamanan.

Di sisi lain, rakyat biasa juga tak luput dari permainan ini. Menurut Sutoyo, masyarakat sengaja dilemahkan lewat adu domba dan hiruk-pikuk isu di media.

"Rakyat disesatkan melalui media," tegasnya. "Setiap hari bertarung dengan isu yang berubah per detik, sehingga lupa pada ancaman utama."

Lalu bagaimana dengan pemerintahan baru? Sutoyo mengaku sempat berharap pada Presiden Prabowo Subianto. Ia berharap ada angin segar. Namun begitu, harapan itu sepertinya belum terwujud. Rekam jejak sebagai penerus Jokowi dinilainya membuat keadaan stagnan, bahkan memunculkan isu baru bahwa Prabowo disebut-sebut sebagai antek asing.

Pernyataannya ditutup dengan nada yang muram. Dominasi asing, menurutnya, justru kian leluasa. Sementara itu, para penguasa dan kita semua dianggapnya tetap dalam kondisi yang memprihatinkan.

"Astaga, begitu leluasa mereka menguasai Nusantara," jelas Sutoyo dengan getir. "Sementara penguasa dan kita semua tetap limbung, tuli, dan buta."

Pernyataan yang keras. Sebuah gambaran suram yang tentu saja memantik perdebatan. Benarkah kita masih terjajah? Atau ini sekadar retorika politik belaka? Jawabannya, mungkin, terletak pada siapa yang Anda percayai.

Editor: Lia Putri

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar