“Dan kami sangat senang mereka melakukannya, karena di atas semua hal lainnya, yang tidak mereka butuhkan adalah rudal yang menghantam kota-kota dan permukiman mereka.”
Permintaan itu bukan tanpa alasan. Situasinya memang kritis. Serangan Rusia selama ini telah melumpuhkan infrastruktur listrik Ukraina. Jutaan orang terpaksa hidup tanpa pasokan listrik yang stabil, pemanas, dan air bersih di tengah suhu yang terus merosot. Ancaman krisis kemanusiaan nyaris di depan mata.
Badan meteorologi setempat bahkan memprediksi suhu akan anjlok hingga minus 30 derajat Celsius dalam hitungan hari. Pihak berwenang pun berkejaran dengan waktu untuk memperbaiki jaringan yang rusak.
Di sisi lain, ancaman serangan baru masih membayangi. Presiden Volodymyr Zelenskyy dalam pidatonya Rabu malam memperingatkan warga tentang kemungkinan serangan Rusia lebih lanjut terhadap fasilitas energi.
Selain soal gencatan senjata sementara itu, Trump juga menyebut ada secercah harapan di meja perundingan. Menurutnya, telah terjadi “banyak kemajuan” dalam pembicaraan damai yang dimediasi AS antara Kyiv dan Moskow. Perang yang akan memasuki tahun kelima ini, barangkali, ada titik terang.
Namun begitu, realita di lapangan tetap pahit. Pada Kamis saja, serangan Rusia dilaporkan menewaskan enam orang di wilayah Ukraina bagian tengah dan selatan. Korban jiwa terus berjatuhan, sementara dingin yang menggigit semakin tak tertahankan.
Artikel Terkait
Samin Tan dan Phoenix: Dua Kasus Utang yang Menunggu Tangan Tegas Kejagung
Seragam Cokelat dan Penjara Gengsi: Saat Cita-cita Anak Dikalahkan Ekspektasi Desa
Sekolah dan Sejarah yang Kehilangan Suara: Saat Pendidikan Lupa untuk Menggugah
Kentongan Berbalik Maut: Sebuah Tragedi dan Refleksi Kelalaian di Kulon Progo