Es Gabus Viral: Antara Kekhawatiran dan Kekeliruan Aparat

- Kamis, 29 Januari 2026 | 22:25 WIB
Es Gabus Viral: Antara Kekhawatiran dan Kekeliruan Aparat
Es Gabus dan Polemiknya

Gelombang pro dan kontra masih terus bergulir. Semuanya berawal dari video viral yang memperlihatkan seorang penjual es gabus dituding menggunakan spons sebagai bahan dagangannya. Tak cuma di media sosial, perdebatan ini juga memantik komentar dari sejumlah tokoh.

Dua nama, misalnya, punya pandangan yang bertolak belakang soal cara aparat TNI dan Polri menangani kasus itu.

Firdaus Oiwobo merasa persoalan ini sebaiknya tidak dibesar-besarkan. Baginya, viral itu wajar, tapi jangan sampai justru melemahkan institusi Polri dan TNI. Menurutnya, bisa jadi Babinsa dan Bhabinkamtibmas bertindak karena rasa khawatir.

"Mereka mungkin bersikap protektif, takut ada bahaya buat anak-anak yang beli es itu," ujarnya.

Ia mengingatkan, banyak produk luar yang mengandung zat kimia berbahaya. Apalagi es yang dijual murah-murah. "Bisa saja membahayakan kesehatan anak-anak," tambahnya.

Firdaus punya pesan untuk publik: jangan ikut-ikutan menghakimi. "Enggak usah dibesar-besarkan lah. Banyak orang yang sok jadi pahlawan kesiangan, ikut mencibir dan menjustifikasi Polri yang sedang bertugas. Bapak Babinsa dan Binmas. Enggak perlu itu," tegasnya.

Suara yang Berseberangan

Di sisi lain, ada suara kritis dari mantan Kabareskrim Polri, Susno Duadji. Ia justru melihat tindakan aparat di lapangan sebagai sebuah kekeliruan yang serius, bahkan melanggar SOP.

"Jelas itu ngawur," katanya tanpa basa-basi.

Menurut Susno, aparat tak bisa main tuduh begitu saja hanya berdasarkan penilaian mata. "Kalau mencurigai ada pelanggaran terkait makanan, ya harus ada penyelidikan, diperiksa di laboratorium. Tidak bisa cuma pakai mata telanjang lalu bilang 'ini bahaya, ini palsu', apalagi langsung disebar dan melakukan hal-hal yang tidak pantas," paparnya panjang lebar.

Ia kemudian merinci sejumlah kesalahan yang dilakukan juniornya itu. Merampas dagangan, memarahi, hingga dugaan kekerasan verbal dan fisik itu semua, dalam pandangannya, adalah pelanggaran berat.

"Mereka bisa kena kode etik, hukuman disiplin, bahkan pidana. Berat ini. Ini harus jadi contoh agar tak ada lagi 'peradilan jalanan' seperti itu: langsung dirampas, diremes-remes, dimarahi, atau dipukul kalau memang itu terjadi," ujarnya.

Susno mengakhiri dengan nada prihatin. "Dua orang berseragam TNI dan Polri, ngapain berkekerasan dengan orang yang umurnya sudah cukup dan kondisi fisiknya seperti itu?"

Begitulah. Satu kasus, dua sudut pandang yang sama-sama keras. Di tengah hiruk-pikuk viralitas, pedagang es itu dan es gabusnya mungkin sudah laku lagi. Tapi soal cara penegakan hukum di lapangan, perdebatannya masih panjang.

Editor: Agus Setiawan

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar