Saya masih ingat percakapan dengan seorang bapak tua suatu sore.
Dalam kebersahajaan itu, justru terpancar ketegaran yang luar biasa. Saat itulah saya merasa bukan sedang menolong, melainkan sedang belajar. Belajar tentang makna kesabaran dan rasa syukur yang sesungguhnya.
Pengalaman di Agam mengajarkan satu hal: kemanusiaan tak selalu tentang gebrakan besar. Ia lebih sering hadir dalam hal-hal kecil. Dalam kesediaan untuk mendengar, dalam empati yang tulus, dan dalam kehadiran tanpa pretensi. Kita kerap mengira diri sedang "membantu", padahal sejatinya kitalah yang "diberi pelajaran".
Kini, setelah misi usai dan saya kembali ke rumah, ada yang berubah dalam diri ini. Perjalanan itu membuat saya lebih peka. Lebih bersyukur. Dan lebih sadar, bahwa di luar sana masih banyak cerita perjuangan yang tak terangkat ke permukaan. Cerita tentang harapan dan keteguhan hati manusia.
Agam tak cuma meninggalkan kenangan akan pemandangan indah atau perjalanan jauh. Tempat itu meninggalkan jejak yang dalam tentang cara memandang sesama. Menjadi manusia, rupanya, bukan soal seberapa banyak harta yang kita kumpulkan. Tapi seberapa dalam kita bisa merasakan dan peduli. Pada akhirnya, pilihannya cuma dua: turun tangan, atau tetap diam menyaksikan dari kejauhan.
Artikel Terkait
Polisi Ringkus Komplotan Pencuri Motor yang Beraksi Puluhan Kali di Makassar dan Gowa
Kementan Genjot Mitigasi Kemarau untuk Jaga Produktivitas Perkebunan
Real Madrid Hancurkan Manchester City, VinÃcius Balas Sindiran Suporter
Nyepi 2026 Jatuh pada 19 Maret, Diawali Rangkaian Ritual Sakral