Meski sudah berusaha membantah dan bahkan menawarkan untuk diajak ke tempat produksi di Depok, kekerasan justru berlanjut. "Saya bilang, 'Ampun, Pak, ini bukan saya yang bikin, punya bos. Kalau tidak percaya, ikut saja ke Depok.'" Tapi, bukannya didengar, es dagangannya malah dihancurkan. "Esnya diremas-remas sampai hancur seperti air, lalu saya disuruh makan," ujarnya.
Dada dan bahunya penuh memar. "Saya ditonjok, disabet pakai selang, ditendang pakai sepatu, disuruh ngaku. Saya bilang ini es beneran, tapi tetap dipukul," keluhnya. Ia juga mendengar kabar yang konon memicu amarah aparat: ada anak yang sakit usai makan es kuenya. "Katanya ada anak-anak sakit. Saya sampai mau nangis, dikurung di pos."
Sudrajat ditahan dari sore hingga larut malam. Ia juga diancam. "Mereka bilang jangan sekali-sekali dagang di sini lagi. Kalau masih dagang, akan ditarik lagi." Ancaman itu rupanya membekas. Hingga kini, ia belum berani kembali berjualan, meski punya banyak pelanggan setia di Kemayoran, Pasar Baru, hingga Kota Tua. "Biasanya saya jualan di Kemayoran, Pasar Baru, sampai Kota Tua. Kalau di tempat kejadian itu, saya kapok," akunya.
Yang membuatnya semakin kesal, setelah kejadian ia tak diantar pulang, apalagi dimintai maaf. "Saya pulang 03.00 pagi, sampai rumah 04.00. Tidak diantar, tidak ada permintaan maaf." Uang Rp 300 ribu yang diterimanya dari atasan aparat malam itu, justru setelah badannya lebam, ia anggap sebagai penghinaan. "Pas sudah bonyok baru dikasih uang. Kurang ajar," ucapnya.
Di sisi lain, hasil pemeriksaan justru membela Sudrajat. Tim Keamanan Pangan Dokpol Polda Metro Jaya menyimpulkan, sampel makanan yang diperiksa ternyata layak konsumsi. Tidak ada zat berbahaya sama sekali.
Fakta itu semakin mengukuhkan bahwa tuduhan terhadap Sudrajat sama sekali tak berdasar. Sementara luka di tubuhnya, dan yang lebih dalam lagi, di hatinya, masih terasa perih.
Artikel Terkait
Tim SAR Temukan Dua Korban Longsor Cisarua di Tengah Hujan dan Ancaman Longsor Susulan
Jadi Petani Bukan Jawaban: Saat Metafora Mengalihkan dari Krisis Keadilan
Di Balik Kursi Dewan Perdamaian: Diplomasi Indonesia Terjebak dalam Rencana AS-Israel?
Indonesia Cetak Sejarah di ASEAN Para Games 2025, Raih 135 Emas di Tengah Pengawasan KND