Jateng Siaga, Pesawat Penyemaian Garam Diterbangkan untuk Redam Hujan Ekstrem

- Rabu, 28 Januari 2026 | 12:24 WIB
Jateng Siaga, Pesawat Penyemaian Garam Diterbangkan untuk Redam Hujan Ekstrem

Cuaca ekstrem masih jadi perhatian serius di Jawa Tengah. Untuk itu, Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) kembali digelar di atas Perairan Utara Jawa Tengah, Selasa lalu. Intinya, upaya ini dilakukan buat mengurangi curah hujan yang berpotensi memicu bencana.

Bergas C. Penanggungan, sang Kalakhar BPBD Jateng, menyebut operasi ini akan terus berjalan. Rencananya, sampai tanggal 29 Januari 2026 mendatang. Tujuannya jelas: menekan hujan lebat, khususnya di daerah-daerah yang sudah terlanjur terdampak bencana.

“Sesuai arahan Bapak Gubernur, saya sudah kontak dengan Kepala BNPB. Upaya penanganan darurat di wilayah terdampak guna pemulihan yakni modifikasi cuaca sampai 29 Januari 2026,”

Begitu penjelasan Bergas saat berbincang dengan awak media, Rabu (28/1).

Lalu, bagaimana caranya? Pesawat yang ditugaskan membawa dua bahan utama: kapur dan garam. Fungsinya berbeda. Kapur dipakai untuk menahan hujan agar tidak langsung jatuh di lokasi bencana.

“Dan garam untuk menurunkan hujan terlebih dahulu sebelum awan sampai di lokasi bencana,”

Jelasnya lagi. Jadi, hujan dipaksa turun lebih awal, di atas laut, sebelum sampai ke daratan yang rentan.

Di sisi lain, Fadhlan Rizakul Hafidz, Flight Scientist dari PT Makson Sukses Pratama, memberi gambaran teknis yang lebih rinci. Pada sortie ketiga, pesawat dengan kode PK-SCJ itu menyebarkan Natrium Klorida (NaCl) sebanyak 1.000 kilogram.

Penyemaiannya fokus pada area yang disebut Target 1. Lokasinya sekitar 52 hingga 82 nautical mile dari Bandara Ahmad Yani Semarang, tepatnya di sektor radial 298 hingga 309 derajat. Menurut Fadhlan, wilayah perairan utara Jateng itu dipilih karena kondisinya masih mendukung untuk tumbuhnya awan hujan.

“Area sasaran berada di perairan utara Jawa Tengah yang secara meteorologis masih berpotensi mendukung pertumbuhan awan hujan,”

Ungkapnya.

Selama penerbangan, tim mengamati awan Cumulus Congestus yang puncaknya menjulang sampai 15.000 kaki. Dasar awan ini ada di ketinggian 4-5 ribu kaki. Mereka juga menemukan awan Stratocumulus, dengan ketinggian yang sedikit berbeda.

“Selain itu, turut teridentifikasi awan Stratocumulus dengan puncak awan sekitar 10.000 kaki dan dasar awan di ketinggian 6.000 kaki,”

Jelas Fadhlan menerangkan.

Pada intinya, operasi ini adalah sebuah manuver untuk mengalihkan ancaman. Dengan menyemaikan garam, diharapkan hujan ekstrem bisa dikurangi di daratan dan lebih dialihkan ke wilayah perairan. Langkah ini bukan cuma soal mengatur cuaca, tapi bagian dari mitigasi bencana hidrometeorologi seperti banjir dan genangan yang kerap menghantui saat puncak musim hujan seperti sekarang.

Editor: Lia Putri

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar