Prabowo Subianto baru-baru ini membuat pernyataan yang cukup menggema. "Ekonomi Indonesia akan mengejutkan dunia," ucapnya penuh keyakinan. Pernyataan itu langsung memantik beragam reaksi, dan dunia internasional pun memang terlihat agak tercengang. Bukan semata-mata karena data atau rincian strateginya, tapi lebih karena tingkat kepercayaan diri yang dipancarkannya terasa begitu tinggi, bahkan berani.
Kalau negara-negara lain biasa membahas pertumbuhan ekonomi dengan slide presentasi penuh grafik dan tabel yang rumit, kita seolah punya pendekatan berbeda. Semangatnya lebih mirip optimisme ala warteg: belum dihitung secara detail, tapi sudah yakin bakal kenyang. Belum dijelaskan secara teknis, tapi rasa percayanya sudah penuh. Gaya seperti ini tentu saja bikin banyak pihak penasaran.
Tak heran, sejumlah investor asing pun bertanya-tanya. Mereka mungkin bergumam, "Ini strategi ekonomi model apa, sih?"
Namun begitu, jawabannya bagi sebagian pihak terasa sederhana: strateginya adalah yakin dulu. Prinsipnya, yang penting percaya, urusan angka dan realisasinya menyusul kemudian. Sebuah pendekatan yang mengandalkan optimisme sebagai bahan bakar utama.
Di sisi lain, realitas di lapangan juga punya ceritanya sendiri. Harga cabai dan kebutuhan pokok lainnya mungkin naik, tapi semangat nasional yang digaungkan seolah ikut melambung, bahkan lebih tinggi. Harga BBM bertambah, namun nada pidato tentang masa depan justru semakin meninggi dan penuh gairah.
Prabowo dengan tegas meyakinkan bahwa perekonomian negara akan melesat cepat. Tapi, di tengah janji lesatan itu, tidak sedikit warga yang masih mencerna. Di benak mereka, pertanyaan sederhana mengemuka, "Pak, ngebutnya di mana ya? Soalnya dompet saya kok rasanya masih di tempat yang sama."
Pada akhirnya, dunia mungkin benar-benar akan terkejut. Bukan tanpa alasan. Indonesia bisa jadi akan dicatat sebagai salah satu negara yang unik, di mana gairah dan kata-kata tentang ekonomi mampu menciptakan gelombang optimisme tersendiri, jauh sebelum angka-angka statistik berbicara. Sebuah fenomena yang menarik untuk disimak perkembangannya.
(Ali Murtadho)
Artikel Terkait
Unhas Kukuhkan Kembali Prof. Jamaluddin Jompa sebagai Rektor Periode 2026-2030
Riset 150 Tahun Ungkap Generasi Z dan Milenial Lebih Bodoh dari Pendahulunya, Ilmuwan Sebut Malapetaka Kognitif
Gubernur Kaltim Rudy Masud Minta Maaf soal Renovasi Rumah Dinas Rp25 Miliar, Janji Biayai Sendiri Item Non-Kedinasan
Harga Emas Antam Kembali Turun, Kini Rp2,809 Juta Per Gram