Tanah Bergerak di Pasirlangu, 73 Jiwa Masih Tertimbun Reruntuhan

- Senin, 26 Januari 2026 | 10:48 WIB
Tanah Bergerak di Pasirlangu, 73 Jiwa Masih Tertimbun Reruntuhan

Hujan tak henti-hentinya mengguyur sejak Jumat malam. Lalu, Sabtu dini hari pukul dua, tanah di lereng curam Desa Pasirlangu itu tak lagi sanggup menahan beban. Bergeraklah ia, menimbus permukiman warga dalam sekejap. Peristiwa nahas itu kini menyisakan duka dan pekerjaan besar: pencarian puluhan warga yang hilang.

Hingga Minggu malam (25/1) pukul 23.00, angka korban terus bergerak. Sudah 17 jiwa dilaporkan meninggal. Tapi yang membuat hati was-was, 73 orang lainnya masih belum ditemukan, hilang tertimbun material longsor. Pencarian pun digenjot.

Tim SAR gabungan yang terdiri dari Basarnas, BPBD, TNI, Polri, dan relawan bergerak tanpa henti. Mereka tak bekerja sendirian. Kementerian Sosial turun tangan memberikan dukungan logistik untuk operasi tanggap darurat ini.

Menteri Sosial Saifullah Yusuf atau yang akrab disapa Gus Ipul menegaskan komitmennya.

“Kementerian Sosial menyalurkan bantuan logistik untuk mendukung pemenuhan kebutuhan dasar pengungsi serta mendukung proses pencarian dan penanganan korban bersama pemerintah daerah dan unsur terkait,”

Begitu pernyataan tertulisnya yang dikeluarkan Senin (26/1).

Bantuan itu nyata adanya. Dari Gudang Dinas Sosial Jabar, dikirimkan tenda serbaguna, tenda keluarga, ratusan lembar kasur dan selimut. Juga ratusan paket makanan siap saji, lauk pauk, hingga paket khusus untuk anak-anak dan keluarga. Semua untuk mendukung kondisi darurat yang memprihatinkan ini.

Di sisi lain, pengungsian warga terus diatur. Data sementara menyebut 113 jiwa dari 34 KK terdampak langsung. Namun jumlah yang mengungsi jauh lebih besar, mencapai 498 jiwa. Mereka saat ini ditampung di aula Kantor Desa Pasirlangu. Tak hanya jiwa, material juga rusak: 30 unit rumah di Kampung Pasirkuning dan sekitarnya ikut menjadi korban amukan tanah.

Di lapangan, upaya penanganan berjalan pada dua lini. Lini pertama adalah pencarian korban oleh tim gabungan. Lini kedua adalah memastikan korban yang selamat bisa bertahan dengan layak. Untuk itu, Dinas Sosial Kabupaten Bandung Barat bersama Tagana mendirikan dapur umum darurat di SDN 1 Pasirlangu, persis di samping kantor desa. Hebatnya, dapur ini mampu memproduksi sekitar 4.500 paket makanan per hari untuk tiga kali waktu makan, didanai APBD setempat.

Status tanggap darurat resmi ditetapkan Pemkab Bandung Barat hingga 6 Februari mendatang. Ini jadi landasan hukum mobilisasi semua sumber daya. Namun di balik upaya terstruktur itu, proses identifikasi korban berjalan pelan, penuh tantangan.

Hingga laporan ini dibuat, dari 17 korban meninggal, baru 10 yang berhasil diidentifikasi. Tujuh lainnya masih menunggu. Proses verifikasi ahli waris pun tak mudah. Kondisi lokasi yang sulit, jaringan komunikasi yang terputus, dan tentu saja, rasa pilu keluarga yang masih berharap-harga kecil, menjadi kendala yang manusiawi.

Langit di Pasirlangu mungkin masih kelabu. Tapi di tanah yang bergerak itu, harapan dan tenaga para penolong terus dikerahkan, tanpa jeda.

Editor: Melati Kusuma

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar