Di Indonesia, kita kerap menyaksikan pemimpin terpilih yang justru kehilangan moral authority. Mereka kehilangan kepercayaan karena gagal merawat kekuasaan dengan menjaga kesatuan antara kata dan perbuatan.
Kolaborasi Itu Bukan Kelemahan
Dunia organisasi kerap terjebak mentalitas "kita versus mereka." Padahal, filosofi Buddhis menawarkan pandangan lain: semua saling terhubung. Ambil contoh "Keajaiban Malbec" di Argentina.
Para petani anggur yang awalnya bersaing, akhirnya memilih bekerja sama. Hasilnya, kualitas dan reputasi mereka naik bersama-sama. Di tengah budaya korporasi yang mengagungkan persaingan internal, pemimpin visioner justru paham bahwa strategi terbaik adalah ketika kesuksesan individu juga berarti kesuksesan kolektif.
Pemimpin yang Berani Empati dan Mengaku Salah
George Soros, lewat filosofi human fallibility-nya, bilang bahwa manusia pada dasarnya bisa keliru. Kepemimpinan yang kokoh justru ditunjukkan oleh keterbukaan terhadap kritik dan keberanian mengakui kesalahan.
Di Jepang, budaya hansei atau refleksi diri membuat manajer yang mengaku salah justru dihargai dan bahkan dipromosikan, karena dianggap tekun memperbaiki sistem.
John Rawls menambahkan dimensi etis lain. Seorang pemimpin, katanya, harus bisa membayangkan dirinya ada di posisi paling malang dalam masyarakat saat mengambil keputusan. Intinya, apakah kebijakan ini tetap adil jika saya bukan si pemimpin, melainkan warga yang paling terpinggirkan?
Dari Administrator Menuju Pemelihara Jiwa
Krisis kepemimpinan modern ini pada hakikatnya juga krisis filosofis. Kita telah mencetak banyak administrator jago mengisi formulir dan mengejar target. Tapi sangat sedikit yang tlaten memelihara jiwa organisasi lewat berpikir kritis.
Dalam konteks filsafat, berpikir kritis sekarang bukan cuma prasyarat akademik. Ia adalah bentuk perlawanan senyap untuk menjaga pengetahuan tetap hidup, bermakna, dan berdampak.
Kepemimpinan sejati pun harus demikian. Bukan sekadar soal output, tapi komitmen teguh untuk mewujudkan kebaikan bersama. Mencapai bonum communae itulah yang harus dijaga dengan berpikir kritis dan semangat gotong royong.
Jadi, di tengah deru algoritma dan hiruk-pikuk indikator kinerja, filosofi bukanlah kitab usang. Ia justru kompas moral yang mengingatkan kita pada esensi kepemimpinan sejati. Yaitu kepemimpinan yang tidak hanya efisien, tapi juga bijaksana; tak cuma populer, tetapi adil; bukan hanya kuat, namun berani untuk menjadi rentan.
Artikel Terkait
Khozinudin Tuding Laporan Damai Bagian dari S.O.P Solo
Menteri Trenggono Pingsan di Tengah Upacara Duka Korban Pesawat KKP
Jembatan Bolong dan Trotoar Hancur: Aksi Pencuri Fasilitas Publik Mengancam Warga Jakarta
IKN di Ujung Tanduk: Kota Megah atau Kota Hantu?