Pekan lalu, dari 19 hingga 23 Januari 2026, para pemimpin global dan bos-bos korporasi kembali berkumpul di Davos, Swiss. Acaranya megah, seperti biasa. Tapi gemanya? Rasanya seperti mengiris keju Swiss mewah hanya untuk dioleskan di atas tahu goreng dadakan. Ironinya terasa begitu besar. Gebyar pertemuan tingkat tinggi itu nyaris tak meninggalkan bekas yang berarti bagi warga di gang-gang becek yang saat ini justru sedang kebanjiran. Bayangkan, genangan air luapan Ciliwung dan Cisadane yang mencapai 60-100 cm itu, bagi para delegasi Davos mungkin cuma ibarat cheesy dessert di pinggir piring. Menarik perhatian sebentar, lalu dilupakan.
Inilah paradoks zaman kita. Pelatihan kepemimpinan ada di mana-mana, lebih banyak dari masa mana pun dalam sejarah. Tapi sosok pemimpin yang benar-benar bisa dipercaya justru langka. Kita punya GPS kinerja yang super presisi, namun nyatanya sering kehilangan arah. Lalu, kenapa sih birokrasi yang semakin efisien justru terasa makin jauh dari amanah menegakkan keadilan? Jawabannya sebenarnya sederhana, meski pahit: kita terlalu sibuk memoles angka dan lupa mengasah jiwa. Tanpa fondasi filosofi yang kuat, seorang pemimpin cuma seperti mandor yang bergelar segambreng. Tampilannya mentereng, tapi fungsinya cuma 'kayak centeng'.
Soal Customer Delight yang Menyesatkan
Di banyak organisasi modern, kepuasan pelanggan atau karyawan sering dijadikan tolok ukur utama kesuksesan seorang pemimpin. Pokoknya, kalau survei angkanya tinggi dan semua terlihat senang, berarti kepemimpinannya berhasil. Padahal, kepuasan itu sifatnya fluktuatif. Bisa puas hari ini, kecewa besok. Aristoteles sudah mengingatkan sejak lama: perasaan bukanlah kompas yang bisa diandalkan untuk menilai apa yang benar-benar baik.
Kajian terkini yang merujuk pada traktat filsafat klasik sampai modern punya temuan serupa. Pemimpin yang serius justru tak selalu membuat semua orang senang. Keputusan-keputusan penting seringkali tidak nyaman dan menimbulkan resistensi, setidaknya untuk sementara. Nah, di situlah sebenarnya marwah kepemimpinan diuji. Bukan soal menjaga zona nyaman, tapi memastikan organisasi bergerak ke arah yang benar dan berkelanjutan.
Pemimpin visioner paham betul. Tujuan akhirnya bukan sekadar menciptakan delight, melainkan membantu orang dan organisasi untuk bertumbuh. Dan pertumbuhan selalu menuntut kedewasaan, serta keberanian menghadapi ketidaknyamanan.
Jadi, kepuasan mungkin jadi efek samping yang menyenangkan, tapi jelas bukan tujuan utama. Ukuran yang lebih masuk akal adalah apakah keputusan yang diambil benar-benar membangun manusia dan komunitasnya, bukan cuma membuat semua terlihat "puas, puas, dan puas."
SOP yang Kaku Bukanlah Pengganti Penilaian
Zaman dulu saja sudah paham, kebajikan sering terletak di titik tengah, bukan di zona aman yang ekstrem. Ambil ajaran Aristoteles tentang The Golden Mean, di mana keberanian (andreia) adalah jalan tengah antara kenekatan dan ketakutan. Sayangnya, birokrasi kita sekarang sering terjebak pada aturan baku yang justru membunuh kreativitas. Lihat saja contoh nyatanya.
Banyak guru dan dosen di Indonesia sekarang lebih takut salah mengisi borang laporan daripada mengajarkan muridnya berpikir kritis, atau bagaimana tidak tergantung pada hasil olahan LLMs. Pemimpin sejati akan mengerti, keputusan yang bijak bukanlah yang paling populer atau paling aman secara prosedural, melainkan yang paling adil, berdampak sosial, dan berkelanjutan.
Pengaruh Sejati Bukan dari Intimidasi
Plutarch pernah menulis bahwa pemimpin sejati mempengaruhi lewat teladan, bukan ancaman. Pengaruh itu tidak berasal dari otoritas formal semata.
Ketika John F. Kennedy berpidato soal perlunya mengendalikan senjata nuklir, pengaruhnya besar bukan semata karena dia presiden. Tapi lebih karena keberaniannya menyuarakan perdamaian di puncak ketegangan Perang Dingin.
Artikel Terkait
Gempa Dangkal M 2,6 Guncang Mandailing Natal Pagi Ini
Khozinudin Tuding Laporan Damai Bagian dari S.O.P Solo
Menteri Trenggono Pingsan di Tengah Upacara Duka Korban Pesawat KKP
Jembatan Bolong dan Trotoar Hancur: Aksi Pencuri Fasilitas Publik Mengancam Warga Jakarta