Gelombang Pelapor WNI Korban Sindikat Kamboja Mulai Mereda

- Minggu, 25 Januari 2026 | 23:36 WIB
Gelombang Pelapor WNI Korban Sindikat Kamboja Mulai Mereda

Gelombang WNI bekas pekerja sindikat penipuan online yang melapor ke KBRI Phnom Penh masih terus berlanjut. Tapi, ada angin segar: trennya mulai melandai. Dari catatan yang dirilis, sejak pertengahan Januari lalu, tepatnya tanggal 16, jumlah yang sudah mendaftar mencapai 2.277 orang. Namun begitu, pada Jumat 24 Januari, hanya 122 WNI yang datang. Angka ini jauh lebih rendah dibanding tiga hari sebelumnya, yang bisa tembus lebih dari dua ratus laporan per hari.

Meski ada penurunan, pihak KBRI mengaku tak akan kendor. Justru, upaya penanganan malah ditingkatkan.

"KBRI Phnom Penh tidak akan lengah, dan justru terus memperkuat upaya penanganan laporan kasus," tegas mereka dalam rilis resmi Minggu (25/1).

Untuk mengatasi situasi ini, koordinasi digeber habis-habisan. Tak cuma dengan berbagai kementerian dan lembaga di Jakarta, KBRI dan Kemlu juga berkomunikasi intens dengan otoritas setempat di Kamboja. Dukungan langsung dari pusat pun datang. Sabtu lalu, tim gabungan dari Kementerian Luar Negeri dan Kementerian Imigrasi dan Pemasyarakatan mendarat di Phnom Penh.

"Kehadiran tim ini untuk membantu pendataan, assessment kasus, dan penerbitan Surat Perjalanan Laksana Paspor (SPLP) bagi WNI yang dokumennya hilang atau tak lengkap. Dukungan ini diharapkan dapat mempercepat berbagai proses di lapangan," jelas keterangan KBRI.

Lalu, di mana para WNI ini tinggal sambil menunggu proses? Kebanyakan dari mereka menginap secara mandiri di berbagai guest house yang tersebar di ibu kota Kamboja itu. Keadaan mereka tetap diawasi oleh staf KBRI. Tentu, tidak semua punya cukup biaya.

Bagi yang terkendala urusan akomodasi, KBRI menyiapkan penampungan sementara. Fasilitas ini, selain untuk keamanan, juga punya tujuan praktis.

"Diharapkan dengan adanya fasilitas yang terkonsentrasi seperti ini juga akan mempercepat proses pendataan, assessment kasus, dan pembuatan dokumen perjalanan," tutup pernyataan itu.

Jadi, meski arus pelapor mulai berkurang, pekerjaan di lapangan masih padat. Semua berjalan, berusaha mencari solusi terbaik untuk ratusan WNI yang terdampar.

Editor: Erwin Pratama

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar