Sebab yang terjadi justru sebaliknya. Bukan tradisinya yang tampak kuat, tapi NU-nya yang malah terlihat ngawur.
Di hadapan profesor hadis dari Mekkah atau Ummul Qura, NU bisa terlihat seperti ormas yang emosional. Cinta tradisi, tapi miskin argumen. Padahal, sejatinya, NU tidak pernah benar-benar kekurangan legitimasi syar’i. Yang sering kali kurang adalah kejujuran ilmiah.
Faktanya, sebagian amalan kita berdiri bukan di atas hadis sahih. Ia berdiri di atas kaidah umum syariat, amal saleh kolektif, praktik ulama, maqashid, dan pertimbangan kemaslahatan. Dan itu sah. Itu terhormat. Itu ilmiah.
Yang tidak ilmiah adalah memalsukan kekuatan dalil hanya demi menyelamatkan harga diri sebuah tradisi.
Gus Baha’ seperti sedang berkata pelan: Jangan jadikan NU tampak alim dengan cara yang tidak alim. Lebih mulia berkata jujur, “Ini tidak ada hadis sahihnya, tapi ini baik, ini maslahat, ini warisan ulama.”
Daripada ngotot bilang, “Ada hadisnya,” padahal tidak tahu sanadnya, tidak kenal perawinya, dan tidak paham kualitasnya.
Ironisnya, yang membuat NU tampak lemah di hadapan kelompok lain bukanlah tradisi tahlilannya. Bukan. Tapi kebiasaan berbohong atas nama hadis.
Di situlah kritik Gus Baha’ menjadi tamparan lembut. NU tidak butuh dalil palsu. Yang dibutuhkan cuma kejujuran dan sedikit keberanian untuk berkata, “Kami mencintai tradisi, tapi kami tidak mau memalsukan Nabi demi membelanya.”
(Dwy Sadoellah)
Artikel Terkait
Skandal Rp50 Miliar: Bupati Pati Tertangkap Tangan KPK dalam Kasus Jual Beli Jabatan Desa
Bareskrim Bongkar Modus Proyek Fiktif Fintech DSI, Kerugian Tembus Rp 2,4 Triliun
Calvin Khoe: MUN Bukan Cuma untuk Kampus, Saatnya Masuk ke Sekolah Negeri
Malaysia Buka Suara Soal Tiga Desa Nunukan yang Pindah ke Wilayahnya