Matahari terik menyengat tepat di atas kepala. Pukul satu siang, di depan Pasar Pabean Surabaya, sekelompok perempuan sudah berjaga. Mereka menunggu truk boks parkir, tangan siap memegang papan kayu dan kain gulungan yang nantinya akan jadi bantalan di kepala.
Saat pintu truk dibuka sopir, antrean langsung terbentuk. Dengan cepat, papan kayu itu terpasang di atas kepala masing-masing. Sopir lalu menyusun sekitar dua belas bungkusan besar berisi mi di atas papan seorang kuli. Begitulah awal rutinitas mereka.
Perlahan, dengan langkah tertata, mereka memanggul muatan itu masuk ke dalam pasar. Tujuannya toko-toko grosir milik para tengkulak. Mereka silih berganti, tak hanya mi. Barang-barang kebutuhan pokok lainnya juga jadi urusan mereka.
Di sisi lain, terlihat seorang perempuan lain sedang mengangkut belasan bongkah gula merah. Sekira sepuluh kilogram per bungkus. Satu per satu bungkusan itu ia bawa masuk ke toko, lalu diturunkan dengan hati-hati.
Tak cuma gula. Karung-karung merah berisi bawang juga jadi muatan. Cukup bermodalkan handuk sebagai bantalan, karung itu sudah didorong ke atas kepala. Lalu mereka berjalan. Kaki dan kepala menjadi tumpuan utama, sebuah gambar ketangguhan yang menyambung hidup di sela keramaian Pasar Pabean.
Yuni, umur 46 tahun, adalah salah satu dari mereka. Sudah 15 tahun ia hidup dari pekerjaan ini.
“Tiap hari kayak gini angkut-angkut. Untuk kebutuhan sehari-hari, untuk makan,”
katanya suatu Rabu siang. Sambil menahan kardus di kepalanya, ia bercerita. Dalam sehari, ia bisa bolak-balik memanggul barang dari truk ke toko hingga 25 kali.
“Macam-macam, ya bawang, gula merah, kardus. Dari truk ke tokonya,”
jelas Yuni.
Namun begitu, beban berat di kepala itu rasanya tak sepadan dengan hasilnya. Penghasilannya sangat fluktuatif. Sehari bisa cuma tiga puluh ribu, kadang kalau lagi bagus dapat lima puluh ribu rupiah.
“Ya kadang Rp 30 ribu, kadang Rp 50 ribu. Hitungannya per angkut, bisa Rp 2 ribu, Rp 3 ribu,”
keluhnya. Tarif sekian rupiah itulah yang ia perjuangkan, sekali angkut, sekali panggul.
Artikel Terkait
Makassar Wajibkan Jukir Miliki KTP Lokal, Sinergi dengan Camat dan Lurah Diperkuat
Tangis Haru Calon Siswa Sekolah Rakyat Pecah di Pundak Seskab Teddy
Polisi Tangkap Tiga Pelaku Pemerkosaan Remaja di Makassar, Salah Satunya Masih di Bawah Umur
Kuasa Hukum Nadiem Protes Percepatan Sidang Chromobook, Sebut Langgar Prinsip Persidangan Adil