Pendidikan Tanpa Arah: Ketika Kecerdasan Tanpa Akhlak Menjadi Bencana

- Senin, 19 Januari 2026 | 22:50 WIB
Pendidikan Tanpa Arah: Ketika Kecerdasan Tanpa Akhlak Menjadi Bencana

Gedung-gedung sekolah menjulang megah, kurikulum berganti, teknologi pembelajaran makin canggih. Tapi, di tengah semua kemajuan itu, ada yang terasa mengganjal. Kerusakan moral justru makin nyata. Korupsi dilakukan oleh orang-orang terdidik. Kekerasan, penyimpangan, krisis akhlak semuanya menjangkiti generasi yang justru lahir dari bangku sekolah. Kalau pendidikan diklaim sebagai solusi, kenapa malah jadi bagian dari masalah?

Lihatlah pendidikan hari ini. Sibuk sekali mengejar standar. Nilai akademik, sertifikasi, akreditasi, kompetensi kerja itulah tolok ukur utamanya. Anak-anak dididik agar adaptif di pasar kerja, siap bersaing, memenuhi tuntutan ekonomi. Namun begitu, di balik orientasi yang serba pragmatis itu, ada satu hal fundamental yang hilang: arah hidup. Peserta didik jarang diajak merenung, untuk apa sebenarnya ilmu ini dipelajari? Dan kepada siapa nanti ia harus dipertanggungjawabkan?

Menurut sejumlah pengamat, akar persoalannya tidak berdiri sendiri. Ini berkaitan erat dengan paradigma sekuler yang mendasari sistem pendidikan kita. Agama sering diposisikan sebagai urusan privat belaka. Sementara ilmu pengetahuan dianggap netral, bebas nilai. Akibatnya? Iman terpisah dari proses belajar. Ilmu kehilangan fungsinya sebagai penuntun hidup. Dalam kondisi seperti ini, kecerdasan tidak lagi diarahkan untuk menjaga kebenaran. Malah, kerap jadi alat pembenaran bagi kepentingan dan hawa nafsu semata.

Inilah paradoks yang kita hadapi. Pendidikan mampu melahirkan individu cerdas, tapi gagal membentuk kepribadian yang lurus. Sekolah menghasilkan lulusan terampil, namun miskin orientasi moral. Pengetahuan berkembang pesat, sementara kesadaran akan tanggung jawab di hadapan Tuhan justru menipis. Makanya, jangan heran kalau berbagai kerusakan sosial justru diproduksi oleh mereka yang secara formal dinyatakan “berpendidikan”.

Di sisi lain, Islam memandang pendidikan dengan cara yang berbeda. Pendidikan bukan sekadar transfer ilmu. Ia adalah proses pembentukan kepribadian yang utuh. Ilmu tidak berdiri bebas; ia terikat pada akidah. Akal tidak dibiarkan liar, melainkan diarahkan oleh wahyu. Tujuannya pun jelas: bukan cuma mencetak individu yang cakap secara intelektual, tapi membentuk manusia yang sadar posisinya sebagai hamba Allah dan khalifah di muka bumi.

Sejarah peradaban Islam memberi bukti nyata. Pendidikan yang dibangun di atas landasan syariat ternyata mampu melahirkan generasi berilmu sekaligus berakhlak. Ulama, ilmuwan, pemimpin mereka lahir dari sistem yang menjadikan iman sebagai pondasi berpikir dan bertindak. Keunggulan intelektual berpadu dengan komitmen moral yang kuat terhadap kebenaran dan keadilan. Fakta ini menunjukkan sesuatu: kejayaan itu bukan lahir "meski" syariat, melainkan justru "karena" syariat.

Jadi, problem pendidikan kita hari ini sejatinya bukan cuma persoalan teknis. Bukan soal kurang fasilitas, metode, atau inovasi. Persoalannya lebih dalam: bersifat sistemik dan ideologis. Selama pendidikan dibangun di atas paradigma yang memisahkan iman dari ilmu, sebanyak apa pun reformasi dilakukan, kerusakan akan terus berulang. Hanya dengan wajah yang berbeda-beda.

Sudah waktunya pendidikan dikembalikan pada fitrahnya. Ia harus jadi sarana membentuk manusia yang bertanggung jawab, baik di hadapan Allah maupun di tengah masyarakat. Pendidikan tak boleh berhenti pada pencetakan tenaga kerja. Ia harus diarahkan untuk melahirkan generasi yang mampu menjaga kebenaran, menegakkan keadilan, dan merawat peradaban. Tanpa fondasi syariat, yang lahir hanyalah kecerdasan tanpa arah. Kemajuan tanpa keberkahan.

Wallahu a’lam bishowab.

Selvi Sri Wahyuni M.Pd
Pegiat Pendidikan

Editor: Redaksi MuriaNetwork

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar