Angka yang diungkapkan Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin sungguh mencengangkan. Dalam rapat kerja dengan Komisi IX DPR di Senayan, Jakarta, pekan lalu, ia menyebut puluhan juta warga Indonesia diperkirakan bergumul dengan masalah kejiwaan. Sayangnya, sebagian besar dari kasus-kasus ini masih mengambang, tak terdeteksi dan jauh dari penanganan yang layak.
“Karena WHO bilang, masalah kejiwaan itu satu dari delapan sampai satu dari sepuluh penduduk. Jadi kalau Indonesia 280 juta (penduduk), ya minimal 28 juta tuh punya masalah kejiwaan,” kata Budi, menjelaskan dasar perhitungannya.
Rentang masalahnya luas sekali. Menurut penjelasan Budi, kondisi yang dimaksud bukan cuma soal stres sehari-hari. Mulai dari depresi dan serangan kecemasan atau anxiety disorder, hingga kondisi yang lebih kompleks seperti skizofrenia dan ADHD. Intinya, spektrumnya beragam.
Namun begitu, fakta di lapangan justru memperlihatkan kesenjangan yang lebar. Hasil skrining kesehatan jiwa yang digalangkan pemerintah ternyata masih sangat minim. Angkanya nyaris tak sampai 1 persen untuk orang dewasa, dan sekitar 5 persen untuk anak-anak. Ini jelas menunjukkan betapa banyak orang yang sebenarnya butuh pertolongan, tapi belum terjangkau sama sekali.
“Dari yang kita screen, masih rendah sekali. Ya jadi masih rendah sekali,” ujarnya menegaskan. Padahal, skrining itu penting banget sebagai langkah awal untuk memetakan persoalan.
Lalu, solusinya apa? Tampaknya, Kemenkes sedang berupaya mendekatkan layanan ke akar rumput.
Artikel Terkait
Saksi Bisu Perubahan Zaman: 40 Tahun Firman Berdiri di Perempatan Menteng
Target 76 Tahun: Menkes Canangkan Peningkatan Usia Harapan Hidup dan Kualitas Lansia
Amien Rais Mengenang Mohammad Natsir: Pemimpin yang Tak Punya Rumah dan Pesan untuk Zaman Edan
Bupati Pati Sudewo Ditangkap KPK dalam OTT Mendadak