Biofuel: Kunci Mencapai Kemandirian Energi Indonesia Menurut Ahli UI
Pusat Kajian Ketahanan Energi untuk Pembangunan Berkelanjutan Universitas Indonesia (Puskep UI) menegaskan bahwa bahan bakar nabati (biofuel) merupakan solusi strategis untuk mencapai kemandirian energi Indonesia. Dalam berbagai analisis, potensi biofuel dinilai sangat besar untuk mengurangi ketergantungan pada energi fosil.
Transisi Energi dan Dukungan Potensi Alam Indonesia
Ketua Puskep UI, Ali Ahmudi, menyatakan bahwa Indonesia dituntut segera bertransisi energi untuk menurunkan emisi gas rumah kaca. Langkah ini dapat diwujudkan dengan menggunakan bahan bakar yang lebih ramah lingkungan, seperti biofuel.
Keunggulan Indonesia dalam pengembangan biofuel terletak pada melimpahnya bahan baku. Ali Ahmudi membandingkan potensi Indonesia dengan Brasil yang telah sukses mengembangkan biodiesel dan bioetanol hingga 100 persen (E100).
"Kita dan Brasil itu enggak terlalu jauh. Sama-sama di negeri tropis, sama-sama agraris. Sama-sama punya hutan banyak, secara alam kita mirip. Seharusnya kita bisa mencapai kemandirian energi seperti Brasil," tegas Ali dalam Diskusi Publik, Jumat (7/11).
Ketahanan Energi Indonesia dan Peluang Bioenergi
Ali mengakui bahwa kondisi ketahanan energi Indonesia masih kalah dari negara tetangga seperti Vietnam dan Myanmar, maupun negara maju seperti AS, khususnya dari sektor migas dan minerba. Namun, Indonesia memiliki keunggulan komparatif dengan kekayaan sumber daya alam untuk bahan baku bioenergi.
Artikel Terkait
Menteri Keuangan Ubah Skema Pembiayaan Koperasi Desa, APBN Kini Tanggung Utang
Pemerintah Targetkan 400.000 Unit Bedah Rumah pada 2026
CDIA Resmikan Kapal Kimia Cair 9.000 DWT, Siap Layar 2026
PTBA Targetkan Reaktivasi Tambang Warisan Dunia Ombilin pada 2026