Air menggenang di mana-mana, tapi pesta tetap harus berjalan. Itulah yang terjadi di Desa Pacar, Tirto, Pekalongan, Minggu lalu. Di tengah situasi banjir yang sudah merendam kawasan itu sejak Jumat malam, sebuah resepsi pernikahan justru digelar. Tak peduli air, sukacita mereka tak bisa ditunda.
Rumah mempelai wanita menjadi lokasi hajatan. Padahal, genangan air sudah masuk ke halaman dan sekitar rumah. Rencana sudah disusun jauh hari, undangan telah disebar. Membatalkan semuanya? Rasanya bukan pilihan. Jadi, meski kondisi kurang ideal, pesta pun dimulai.
Banjirnya sendiri cukup dalam kira-kira setinggi lutut orang dewasa. Bayangkan saja, pelaminan dan tenda hajatan pun ikut terendam. Kursi-kursi tamu berdiri di atas air. Suasana jadi unik, campuran antara kemeriahan pesta dan situasi darurat.
Namun begitu, sang mempelai wanita tampil sempurna. Dengan gaun pengantin yang anggun dan tata rias yang apik, ia tetap tersenyum. Seolah-olah genangan air di sekelilingnya hanyalah bagian dekorasi tambahan yang tak terduga.
Menurut sejumlah saksi, tamu undangan pun tetap datang. Mereka rela menerjang banjir, berjalan pelan-pelan dalam air, hanya untuk memberikan ucapan selamat. Suasana akrab dan hangat tetap terasa, meski alas kaki mereka semua basah.
Acara berjalan lancar, meski dengan sedikit improvisasi. Ini membuktikan, kadang semangat dan kebahagiaan manusia jauh lebih kuat daripada rintangan alam. Sebuah perayaan yang mungkin tak akan terlupakan, baik bagi pengantin maupun para tamu yang hadir.
Artikel Terkait
Bareskrim Sita Lebih dari 23 Ton Bawang dan Cabai Selundupan di Pontianak
Alumni SMAN 1 Makassar Angkatan 1982 Reuni, 44 Tahun Lepas Seragam
Manchester City Kalahkan Arsenal 2-1 dalam Laga Sengit Perebutan Puncak Klasemen
Bayern Munich Balas Gol Cepat Stuttgart dengan Amukan Tiga Gol