Ponsel saya bergetar kemarin siang. Saat itu saya sedang jogging. Ternyata, sebuah pesan WhatsApp masuk dari nomor yang tersimpan dengan nama besar: Dahlan Iskan. Ya, mantan Menteri BUMN itu, yang juga jurnalis kawakan dan pemilik media ternama di Jawa Timur. Isinya singkat saja, menyapa nama saya lalu minta izin untuk telepon. Rupanya ada teman yang merekomendasikan saya ke beliau dengan segala deskripsi yang mungkin agak ‘dibumbui’ untuk membuat profil saya terdengar meyakinkan.
Kami memang pernah bertukar pesan singkat di masa pandemi dulu. Jadi, tanpa pikir panjang saya balas. Bahkan saya yang menawarkan, “Silakan Bapak yang telepon saja.” Beberapa menit kemudian, dering telepon pun berbunyi.
Suaranya terdengar agak buru-buru. Langsung saja beliau bertanya tentang situasi terkini di Iran. Katanya, akses internet di sana terputus dan kontak-kontak yang biasa dia hubungi tak bisa dijangkau. Dia butuh penjelasan.
Di tengah obrolan soal Iran itu, tiba-tiba beliau menyelipkan beberapa pertanyaan pribadi. Tentang latar pendidikan saya, kota asal, dan hal-hal dasar lainnya. Saya jawab dengan santai. Dalam hati saya menduga, ini mungkin sekadar cara beliau untuk memastikan bahwa saya ini orang betulan, bukan akun bodong atau identitas semu.
Tapi kemudian, muncullah pertanyaan yang cukup menggelitik. Beliau bertanya apakah saya ini ‘tokoh nomor satu Syiah’ di Indonesia. Saya hampir tertawa. Mungkin ini efek dari ‘bumbu-bumbu’ rekomendasi yang berlebihan tadi. Atau barangkali sekadar canda.
Saya pun menjawab dengan lugas. Saya katakan, dalam konteks Syiah di Indonesia, tidak ada yang namanya ‘tokoh nomor satu’. Struktur semacam itu tidak berlaku. Saya ini cuma salah satu dari banyak orang yang aktif menulis dan menyuarakan pandangan di ruang publik. Titik.
Rupanya, percakapan kami tak berakhir di telepon saja.
Beberapa waktu kemudian, saya baru tahu bahwa obrolan itu muncul dalam tulisan beliau yang dipublikasikan di media sosial. Dan di sana, nama saya disebut persis dengan gelar yang saya sangkal tadi: “tokoh Syiah nomor satu”.
Ya, begitulah.
Menurut saya, penting untuk diluruskan. Dalam komunitas Syiah Indonesia, kita semua setara. Tidak ada hierarki ketat apalagi penomoran. Setiap orang berkontribusi sesuai kapasitas dan perannya masing-masing, tanpa perlu dikategorikan nomor satu, dua, atau tiga.
-Labib Muhsin-
Artikel Terkait
Kubah Masjid: Jejak Akulturasi Islam dan Kearifan Lokal Nusantara
Siap Sambut Imlek 2026, Ini Ucapan Bahasa Inggris yang Tak Biasa untuk Tahun Kuda Api
Isra Mikraj: Cermin Ujian Iman dalam Perjalanan Hidup Manusia
Ketua RT di Karanganyar Luncurkan Ronda Terbang, Pantau Kampung dengan Drone Hasil Tabungan 7 Tahun