“Dan dikalkulasi per hari ini dapat kami laporkan, total rumah terdampak sampai dengan 14 Januari 2026 adalah 238.783 unit,” ungkap Agus.
Aceh menjadi wilayah terparah dengan 208.693 unit rumah terdampak. Menyusul Sumatera Utara (24.294 unit) dan Sumatera Barat (5.796 unit). Untuk membangun dan memperbaiki semuanya, pemerintah memperkirakan butuh dana sekitar Rp 8,2 triliun. Angka yang fantastis.
“Dari ini semua, tentunya kita bisa mengkalkulasi paling tidak ini estimasi biaya... kurang lebih sekitar tercatat di sini Rp 8,2 triliun,” ujarnya.
Tito Paparkan Progres dan Dampak yang Terus Berlanjut
Mendagri Tito Karnavian, yang memimpin rapat, memaparkan perkembangan terbaru pemulihan. Bencana hidrometeorologi di tiga provinsi ini memang meninggalkan luka yang dalam.
“Setidaknya yang kita catat per 14 Januari 2025 yang hilang 141 orang. Semula total pengungsi 2 juta lebih, sekarang sudah menjadi 131,5 ribu,” kata Tito.
Dampaknya menyebar di 52 kabupaten/kota. Tak cuma rumah, fasilitas umum, jembatan, sekolah, puskesmas, hingga rumah ibadah banyak yang rusak. Data terpisah dari Tito menyebutkan total rumah rusak mencapai 175.050 unit, dengan rincian rusak ringan, sedang, dan berat.
Dukungan Personel Diperkuat, Khususnya untuk Aceh
Untuk mempercepat pemulihan, Tito mendorong penambahan personel. Ia meminta TNI, Polri, dan sekolah kedinasan mengirimkan lebih banyak tenaga ke daerah terdampak, terutama Aceh.
“Untuk pemerintahan kabupaten, semuanya lancar kecuali Aceh Tamiang. Aceh Tamiang kemarin betul-betul down,” jelasnya.
Setelah dikirimkan bantuan personel dari TNI/Polri, IPDN, dan beberapa kementerian, kondisi mulai tertangani. Penguatan ini masih akan berlanjut. “Minggu depan saya dengar akan ada Latsitarda dari akademi TNI/Polri, 2.000 total. Sebagian besar tumpahnya ke Tamiang,” ujar Tito. Mereka akan bergerak door to door.
Peluang bagi sekolah kedinasan lain untuk ikut mengirimkan personel juga masih terbuka lebar. Kebutuhan di lapangan, nyatanya, masih sangat besar.
Pentingnya Pemulihan Rumah Ibadah Jelang Ramadhan
Di tengah berbagai prioritas, Pratikno menyoroti satu hal yang mendesak: pemulihan sektor keagamaan. Dengan bulan Ramadhan yang semakin dekat, rehabilitasi masjid dan musala yang rusak menjadi sangat krusial.
“Ini menjadi penting sekali karena sebentar lagi akan memasuki bulan Ramadhan. Percepatan infrastruktur di masjid-masjid yang rusak ya, musala dan lain-lain. Kemudian bantuan untuk perlengkapan ibadah,” ujarnya.
Kebutuhan ini, menurutnya, punya urgensi yang tidak bisa diabaikan. Masyarakat yang terdampak bencana tentu tetap ingin menjalankan ibadah dengan layak di bulan suci nanti.
Artikel Terkait
Medali Nobel Perdamaian Machado Berlabuh di Tangan Trump
Kiai Eko Tuding Bencana Aceh Sebagai Laknat, Warganet Geram
Pascabencana Sumatera, Satgas Fokus pada Membangun Lebih Tangguh
Prabowo Baca Sinyal Global, Diplomasi Indonesia Bergerak di Tengah Badai