Menlu Sugiono Peringatkan Dunia Kembali ke Era Might Makes Right

- Kamis, 15 Januari 2026 | 06:42 WIB
Menlu Sugiono Peringatkan Dunia Kembali ke Era Might Makes Right

Rabu (14/1) lalu, Menteri Luar Negeri Sugiono menyampaikan Pernyataan Pers Tahunannya. Dalam pidato yang disampaikan di hadapan para diplomat dan awak media itu, Sugiono menyoroti sebuah fenomena yang mengkhawatirkan: prinsip "Might Makes Right" atau "Siapa yang kuat, dia yang menang" kembali mengganggu tatanan dunia. Baginya, cara-cara semacam inilah yang perlahan-lahan merusak keseimbangan global yang sudah terbangun.

"Dunia menyaksikan kembalinya fenomena 'Might Makes Right'," ujar Sugiono.

Ia melanjutkan, standar ganda kini dipraktikkan secara terang-terangan, mengikis kepercayaan antarnegara. Akibatnya, tata kelola global yang seharusnya mengelola krisis justru kewalahan mengejar realita yang bergerak cepat.

Yang lebih memprihatinkan, di tengah kondisi ini, beberapa negara kunci justru memilih menarik diri dari tanggung jawab kolektif. Jika dibiarkan, krisis besar bukan tidak mungkin akan terjadi. Sebab, negara-negara akan masuk ke dalam mode bertahan masing-masing suatu situasi yang sama sekali tidak ideal bagi iklim diplomasi. Sejarah punya catatan kelam: terakhir kali dunia mengalami gejala serupa, Perang Dunia Kedua pecah.

"Terakhir kali dunia mengalami gejala-gejala ini, Liga Bangsa-Bangsa collapse, yang kemudian berujung pada pecahnya Perang Dunia Kedua," kata Sugiono.

"Dan saat ini, dunia bergerak menuju kompetisi yang lebih tajam dan fragmentasi yang lebih dalam."

Menghadapi situasi tersebut, Sugiono menekankan pentingnya membaca arah angin. Mau tak mau, Indonesia pun harus turut masuk dalam mode survival, tentu saja dengan caranya sendiri.

Puluhan Kerja Sama Baru: Dari Pertahanan hingga Hukum

Dalam setahun terakhir, pemerintah disebutkan telah menyepakati puluhan kerja sama strategis. Cakupannya luas, mulai dari sektor pertahanan hingga penegakan hukum.

“Dalam setahun terakhir, kita menyepakati tujuh kerja sama di bidang pertahanan serta 16 perjanjian penegakan hukum, termasuk di antaranya dengan Australia, Kanada, Prancis, Turki, dan Yordania,” papar Sugiono.

“Kita juga membentuk kemitraan strategis dengan Rusia dan Thailand, serta kemitraan strategis komprehensif dengan Vietnam,” lanjutnya.

Menurut Sekjen Partai Gerindra ini, berbagai kesepakatan itu bukanlah dokumen yang berdiri sendiri. Ia menyebutnya sebagai fondasi untuk memperkuat kepastian dan keselarasan kerja sama antarnegara. "Berbagai kesepakatan ini adalah komitmen untuk memperdalam kepastian kerja sama dan interoperabilitas," tuturnya.

Komunikasi ke Iran Tersendat, Dampak ke WNI Masih Terbatas

Di sisi lain, Menlu Sugiono mengakui adanya kendala komunikasi ke Iran, yang tengah dilanda demonstrasi besar-besaran. Meski begitu, dampaknya terhadap Warga Negara Indonesia di sana dinilai masih relatif terbatas.

“Komunikasi agak sulit ke Iran. Tapi dari informasi terakhir yang saya terima karena kebanyakan warga negara Indonesia di Iran itu adalah pelajar yang terkonsentrasi di Qom dan Isfahan laporan yang sampai ke saya, ya tidak banyak WNI yang terdampak,” ujar Sugiono menanggapi pertanyaan jurnalis di Kantor Kemlu.

Namun begitu, ia tetap mengimbau seluruh WNI di Iran untuk tidak lengah, meningkatkan kewaspadaan dan terus memantau perkembangan situasi keamanan setempat.

Pendampingan untuk WNI Terduga Pendukung ISIS di Yordania

Sugiono juga memastikan bahwa pemerintah telah memberikan pendampingan kepada WNI yang ditangkap kepolisian Yordania karena diduga terlibat dengan ISIS.

“Dari awal kita sudah memberikan pendampingan sebenarnya. Terakhir juga kita sudah diberi izin untuk mengunjungi yang bersangkutan di juvenile detention,” katanya.

Upaya itu, tegasnya, akan terus dilakukan. Apalagi mengingat WNI yang ditahan tersebut masih di bawah umur. “Satu, kita juga tetap akan melakukan upaya-upaya pendampingan dan perlindungan, karena yang bersangkutan juga masih di bawah umur,” ujarnya. Pemerintah, kata dia, akan mencermati perkara ini secara menyeluruh.

Mengejar Kursi DK PBB: Bukan Cuma Soal Gengsi

Pada forum yang sama, Sugiono mengumumkan bahwa Indonesia kembali mencalonkan diri sebagai anggota tidak tetap Dewan Keamanan PBB untuk periode 2029–2030. Pencalonan ini disebutnya sejalan dengan keterlibatan aktif Indonesia dalam berbagai inisiatif menyambut 80 Tahun PBB, di mana Indonesia mendorong organisasi dunia itu agar lebih responsif dan berdampak.

“Atas dasar inilah, Indonesia kembali mencalonkan diri sebagai anggota tidak tetap Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa tahun 2029–2030,” kata Sugiono.

“Hal ini kita lakukan bukan untuk prestise semata, tetapi untuk memastikan bahwa sistem tetap berfungsi, bahkan di tekanan yang semakin besar, dan sebagai wujud komitmen Indonesia untuk memperbaiki dan mereformasi institusi multilateral.”

Ia mengakui multilateralisme saat ini tengah menghadapi ujian berat. Masalahnya bukan pada nilai dasarnya, melainkan karena arsitekturnya yang tertinggal dari realitas geopolitik dan keamanan global yang berubah cepat. Meski demikian, Indonesia memilih untuk tetap berada di dalam sistem. Sugiono menegaskan, Indonesia tak akan menggantungkan kepentingan nasional pada multilateralisme yang mandul, tetapi juga tak mau menyerahkan masa depannya pada dunia tanpa aturan.

Memantau Per Jam Nasib 2 WNI Korban Pembajakan di Gabon

Perhatian lain pemerintah tertuju pada kasus pembajakan kapal penangkap ikan di perairan Ekwata, Gabon, yang terjadi pada Minggu (11/1) lalu. Empat WNI menjadi korban penculikan dalam insiden tersebut.

Sugiono menyatakan pemantauan dilakukan terus-menerus, bahkan nyaris per jam. Pihaknya juga berkoordinasi dengan Kedutaan Besar China di Gabon untuk mendapatkan informasi terbaru. Dua dari empat korban diketahui masih aman di dalam kapal.

“Ya, ini kita lagi satu, memantau terus perkembangannya. Dan saya juga mencoba untuk berkoordinasi dengan Kedutaan Tiongkok,” katanya.

Sayangnya, hingga Rabu lalu, belum ada kepastian mengenai kondisi dua WNI lainnya yang masih hilang. “Terus terang sejauh ini juga kita belum tahu nasib yang dua. Tapi kita akan coba cari jalur untuk bisa cari tahu kondisinya seperti apa,” pungkas Sugiono.

Editor: Raditya Aulia

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar