Yang paling menyulitkan, dokumen penting pun ikut raib. Ijazah dari SD sampai gelar doktor, sertifikat bangunan, berkas keluarga… semuanya hilang dalam kekacauan itu.
Dengan suara yang berusaha dikendalikan, Sahroni melanjutkan.
“Saya tidak menyangka. Ini sejarah baru, Yang Mulia. Saya tidak korupsi tapi saya dijarah.”
Kalimat itu pun langsung menjadi sorotan. Peristiwa penjarahan rumahnya terjadi di puncak eskalasi unjuk rasa besar di Jakarta, sebuah konteks yang membuat pernyataannya terasa begitu menusuk.
Menurut informasi, polisi sudah mengonfirmasi bahwa sebagian barang berhasil dikembalikan oleh warga. Meski begitu, jumlahnya hanya sedikit, tidak sebanding dengan total kerugian yang ia laporkan.
Penyidikan terhadap pelaku masih terus berjalan. Sementara itu, persidangan ini seperti membuka luka lama, menghadirkan kembali rangkaian peristiwa dramatis yang memicu kerusuhan kala itu. Sidang belum berakhir, tapi kesaksian Sahroni sudah meninggalkan kesan mendalam.
Artikel Terkait
Prabowo: Kebersamaan Imlek dan Ramadhan Wajah Asli Indonesia
Jadwal Imsak dan Salat untuk Warga Medan, 1 Maret 2026
Gibran dan Sejumlah Pejabat Beri Angpao ke Barongsai di Puncak Imlek 2026
Drama Injury Time, Brentford Tumbangkan Burnley 4-3 di Liga Premier