Momen itu benar-benar tak terlupakan. Berdiri di depan Presiden Prabowo Subianto dan berpidato menggunakan Bahasa Inggris, M. Kiendra Lian Damarta, siswa kelas 10 SMRA 13 Bekasi, jelas punya cerita yang luar biasa. Semuanya terjadi saat peresmian 166 Sekolah Rakyat di Banjarbaru, Kalimantan Selatan, Senin lalu.
Dan pujian datang langsung dari orang nomor satu. Prabowo sendiri yang menyebut Kiendra fasih berbahasa Inggris, seolah-olah pernah lama tinggal di luar negeri.
"Senang, happy," ujar Kiendra ketika ditanya perasaannya usai pidato.
Tapi tentu saja, kepercayaan diri yang ditunjukkannya bukan datang begitu saja. Butuh proses panjang, lebih dari empat bulan, dengan bimbingan intensif dari guru-gurunya di Sekolah Rakyat. Awalnya, semuanya terasa canggung. Kiendra mengaku sama sekali tak bisa.
"Tapi lama-lama, sama guru aku Pak Azis, Beliau membantu aku dalam berpidato. Dan akhirnya aku bisa," tuturnya.
Di sisi lain, apresiasi Presiden tak berhenti di situ. Dalam sambutannya, Prabowo terlihat terkesima.
"Saya terkesima hari ini, terus terang saja. Bisa ada anak yang pidatonya bisa dalam beberapa bahasa, luar biasa," katanya.
Bahkan, ia membuka peluang bagi siswa berprestasi di Sekolah Rakyat untuk bisa belajar ke luar negeri. Kiendra sendiri berharap program ini terus berjalan, menjangkau lebih banyak anak dari keluarga yang kurang mampu di berbagai penjuru daerah.
Tak Ada Perundungan, Semua Teman
Di Banjarbaru, antusiasme juga terpancar dari Kirana Ali Ajahra, siswi kelas 7B. Kehadiran Presiden di sekolahnya adalah momen yang membahagiakan.
"Senang banget, karena Pak Presiden berkunjung ke sini itu buat kami bahagia banget," ujar Kirana.
Bagi Kirana, Sekolah Rakyat adalah tempat yang aman. Tak ada ruang untuk perundungan atau pengelompokan berdasarkan latar belakang. Semua berteman, apa adanya.
"Asyik dan menyenangkan, tak ada kata pembulian... Semuanya berteman mau bagaimana pun orangnya," tuturnya.
Hidup di asrama membentuknya disiplin. Bangun pukul empat pagi, lalu mandi, salat, bersih-bersih kamar, dan bersiap ke sekolah. Rutinitas yang teratur ini memberinya fondasi.
Datang dari keluarga sederhana, bahkan yatim, Kirana melihat Sekolah Rakyat sebagai pintu harapan. Cita-citanya lugas: jadi orang sukses. Pesannya untuk Presiden pun tulus.
Artikel Terkait
Isra Mikraj: Antara Keyakinan dan Polemik yang Tak Pernah Usai
Tiang Monorel Rasuna Said Mulai Dibongkar, Dishub Janji Lalu Lintas Tak Tersendat
Islah Bahrawi Buka Suara: Jokowi Larang Yaqut Hadir di Pansus Haji
Detik-Detik Genting di Rel Madukoro: Kombes Polisi Dorong Mobil Mogok Jelang Kereta Melintas