Masalahnya muncul di lapangan. Menurut Dimas, para kader inilah yang kemudian memindahkan makanan dari "ompreng" ke dalam kantong plastik. Itu dilakukan tanpa koordinasi atau sepengetahuannya.
"Sesudah sampai ke titik pengantaran, diserahkan ke ibu kader. Nah, ibu kader berinisiatif, tanpa sepengetahuan saya, malah dimasukkan ke dalam plastik," jelas Dimas pada Minggu (11/1).
Ia mengaku tak tahu detail alasannya. Tapi dari keterangan kader, itu dilakukan spontan. "Katanya spontan aja karena udah sore datangnya. Spontan akhirnya dimasukkan ke plastik," ujarnya.
Dimas tak menampik bahwa penyajian dalam plastik jelas tidak higienis dan melanggar aturan. "Kalau mau dibawa pulang, harusnya pakai alat makan yang sesuai, seperti mangkok atau piring dari rumah masing-masing," tegasnya. Barulah keesokan harinya pihaknya tahu setelah video itu ramai di media sosial.
Di sisi lain, penjelasan datang juga dari para kader. Lusi, Koordinator Kader Posyandu setempat, mencoba meluruskan. Ia menegaskan makanan itu sebenarnya layak konsumsi.
Alasan pemindahan ke plastik, katanya, murni karena kondisi cuaca saat itu. Mereka khawatir makanan terkontaminasi air hujan.
"Kejadiannya sangat spontan, ditambah cuaca saat itu tidak memungkinkan. Akhirnya makanan kami pindahkan ke plastik semata-mata karena khawatir terkena hujan," jelas Lusi.
Badan Gizi Nasional (BGN) sendiri telah menegaskan bahwa SOP wajib diikuti. Penggunaan "ompreng" dalam distribusi bukan tanpa alasan, melainkan untuk menjamin keamanan dan kualitas gizi makanan yang disalurkan.
Kasus ini pun akhirnya berujung pada pertemuan. Pihak SPPG mengundang para kader untuk berkoordinasi lebih lanjut, mencoba mencari solusi agar kejadian serupa tidak terulang di kemudian hari.
Artikel Terkait
Jalur Sepeda Sudirman-Thamrin Kembali Jadi Jalan Pintas Motor
Antrean Truk Berebut Solar Akan Jadi Kenangan pada 2026
Enam Miliar Sehari vs Jerih Payah Rakyat: Cuitan Bang Edi yang Bikin Sesak
Teheran Gelar Unjuk Rasa Besar-besaran, Jawab Protes dengan Ancaman ke AS