Namun begitu, Hatami tampaknya tak gentar. Ia menegaskan kesiapan negaranya.
"Persiapan yang dilakukan selama enam bulan terakhir setelah perang 12 hari yang dipaksakan itu sepenuhnya memadai," tegasnya, untuk mengantisipasi segala ancaman yang mungkin datang dari Israel maupun Amerika Serikat.
Di sisi lain, dari Washington, nada yang berbeda justru terdengar. Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan sedang mempertimbangkan opsi yang "sangat keras". Tujuannya, untuk menghukum Iran atas apa yang ia sebut sebagai tindakan represif brutal terhadap para demonstran di dalam negeri.
Jadi, sementara satu pihak bicara soal pertahanan dan kesiapan tempur, pihak lain justru menyoroti isu hak asasi. Sebuah ketegangan yang kompleks, dan sayangnya, belum tampak ujung pangkalnya.
Artikel Terkait
Prabowo: Kebersamaan Imlek dan Ramadhan Wajah Asli Indonesia
Jadwal Imsak dan Salat untuk Warga Medan, 1 Maret 2026
Gibran dan Sejumlah Pejabat Beri Angpao ke Barongsai di Puncak Imlek 2026
Drama Injury Time, Brentford Tumbangkan Burnley 4-3 di Liga Premier