Ruang yang Menyempit di Kepala Kita
Kekecewaan itu jarang datang dengan teriak. Lebih sering, ia menyelinap diam-diam. Lewat ekspresi yang tiba-tiba mengeras, jawaban singkat yang terasa dingin, atau keengganan untuk mendengar lebih jauh. Bukan serangan yang biasanya melukai, tapi justru kritik. Sesuatu yang mestinya jadi jembatan, malah dianggap ancaman.
Ironisnya, kita hidup di era yang mengagungkan kebebasan bicara. Tapi di saat yang sama, alergi terhadap suara berbeda makin menjadi. Kritik dituduh berniat buruk. Pertanyaan dianggap perlawanan. Saran dicap merendahkan. Ruang dialog pun pelan-pelan menyempit. Bukan karena kurang kata-kata, tapi karena hati yang sudah tertutup rapat.
Ada kutipan yang terasa getir karena kebenarannya: “Kritik yang paling menyakitkan sering kali datang dari tempat yang paling dekat dengan kebenaran.” Yang sebenarnya melukai bukan perkataannya, tapi ego kita yang belum siap disentuh. Ini relevan banget dengan kasus terbaru yang melibatkan Pandji Pragiwaksono, yang dilaporkan ke polisi. Polisi bahkan berencana melibatkan ahli untuk menentukan batas kebebasan berekspresi dalam kasus ini.
Kombes Iman Imanuddin, Direktur Reserse Kriminal Umum Polda Metro Jaya, menjelaskan langkah mereka.
“Kami juga terus melakukan permintaan keterangan dengan para ahli, bagaimana mengkonstruksikan batasan-batasan sejauh mana sebuah kebebasan berekspresi itu, seni itu di ruang publik, dengan ketentuan-ketentuan pidana yang mengatur di dalam setiap sendi kehidupan kita berbangsa dan bernegara,” ujarnya pada Senin lalu.
Langkah ini, katanya, agar penanganan perkara tetap profesional dan berimbang.
“Kebebasan berekspresi ini atau ruang seni ini juga menjadi sebuah ruang seni yang beradab,” tambah Iman. Dia menegaskan semua pihak yang berkaitan akan dimintai keterangan.
Lalu, Bagaimana Membedakan Kritik dan Penghinaan?
Manusia butuh diakui dan dipuji, itu wajar. Masalahnya muncul ketika kebutuhan itu berubah jadi benteng kokoh. Saat identitas kita melekat erat pada apa yang kita kerjakan, kritik terhadap karya terasa seperti serangan pribadi. Di situlah dialog berhenti. Pertahanan dimulai.
Kita jarang diajari cara menerima kritik. Dari kecil, yang diajarkan adalah cara menjawab dengan benar, bukan mendengar dengan lapang. Diajari tampil kuat, bukan jujur mengakui keterbatasan. Makanya, refleks pertama saat dikritik biasanya membantah, bukan memahami.
“Ego adalah suara paling berisik di ruangan yang seharusnya diisi oleh pemahaman.” Begitu ego mengambil alih, kritik tak lagi didengar sebagai pesan. Ia disaring sebagai ancaman. Yang sampai cuma rasa tersinggung. Ujung-ujungnya? Laporan. Jalan berdemokrasi pun mandek.
Padahal, kritik nggak selalu benar. Tapi hampir selalu bermakna. Ia sinyal bahwa ada sesuatu yang perlu diperhatikan. Menolaknya sama aja kayak menutup jendela di ruangan pengap bukan karena udara luar sempurna, tapi karena udara dalam sudah stagnan.
Sikap anti-kritik sering dibungkus dalih mulia: menjaga prinsip, mempertahankan marwah. Tapi kalau setiap perbedaan dianggap serangan, yang dijaga sebenarnya cuma kenyamanan. Dan kenyamanan berlebihan itu lahan subur untuk stagnasi.
Artikel Terkait
Eggi Sudjana dan Pemecatan Massal: Klarifikasi atau Jurang Baru?
PDIP Usung 21 Rekomendasi dan Tolak Tegas Pilkada Lewat DPRD
Pemecatan Massal TPUA, Sinyal Klarifikasi Eggi Sudjana Usai Bertemu Jokowi
Kepala Sekolah Lampung Murka, Tempe dan Anggur Busuk Ditemukan di Menu Gizi Gratis