Soto Ayam Program Sekolah Picu Keracunan Massal 261 Siswa di Mojokerto

- Senin, 12 Januari 2026 | 10:50 WIB
Soto Ayam Program Sekolah Picu Keracunan Massal 261 Siswa di Mojokerto

MURIANETWORK.COM – Keracunan massal melanda sejumlah sekolah di Mojokerto. Diduga, sumber masalahnya berasal dari program Makan Bergizi Gratis (MBG) dengan menu soto ayam yang disantap para siswa pada Jumat lalu.

Korban berjatuhan. Menurut Sekretaris Daerah Mojokerto, Teguh Gunarko, total ada 261 orang yang terdampak. Mereka berasal dari tujuh lembaga pendidikan berbeda yang mendapatkan distribusi makanan dari satu sumber yang sama: SPPG Desa Wonodadi di Kecamatan Kutorejo.

"Data terbaru di posko, yang masih dirawat 121 orang. Sisanya, 140 orang, sudah diperbolehkan pulang," jelas Teguh saat ditemui di RSUD Prof. dr. Soekandar Mojosari, Minggu (11/1/2026).

Penanganan darurat pun dijalankan. Hampir semua fasilitas kesehatan di Mojokerto Raya dilibatkan, mulai dari puskesmas hingga rumah sakit swasta. Meski begitu, pusat penanganan terbesar tetap berada di RSUD Soekandar, yang masih merawat sekitar 49 pasien.

Lembaga mana saja yang kena imbas? Daftarnya cukup panjang. Ada SMP Negeri 2 Kutorejo dengan 40 murid, SD Negeri Singowangi, SDN Wonodadi 1, TK Dharma Wanita Wonodadi, SMP IT Al Hidayah, hingga pondok pesantren MTS/MA Ponpes Mahaad AnNur di Desa Singowangi. Korban bukan cuma siswa, tapi juga menyasar tenaga pendidikan bahkan beberapa wali murid.

Di sisi lain, penyelidikan terus digenjot. Wakil Gubernur Jatim, Emil Elestianto Dardak, langsung turun meninjau korban. Petugas Dinas Kesehatan sudah mengambil sampel sisa makanan dari korban dan juga dari dapur SPPG terkait.

Teguh Gunarko memberi penjelasan soal proses ini. "Sudah beberapa sampel diambil. Hasilnya paling cepat kemungkinan besok, Senin. Tapi kami tidak terburu-buru. Yang penting datanya akurat dan valid untuk evaluasi," paparnya.

Soal biaya, pemerintah memastikan tidak akan membebani korban. Semua biaya pengobatan dan perawatan akan ditanggung penuh oleh negara melalui Badan Gizi Nasional (BGN) selaku penanggung jawab program MBG.

"Terkait biaya, kami sudah sepakat dengan BGN. Semua ditanggung. Masyarakat tidak perlu keluar serupiah pun. Termasuk rumah sakit, semuanya ditanggung negara," tegas Teguh.

Di balik angka-angka statistik, ada cerita pilu orang tua. Seperti yang dialami Kiti Fatmalasari (29). Putrinya, Putri Candra Kirana (13), siswi SMP IT Al Hidayah, masih terbaring lemah di Puskesmas Kutorejo.

"Anak saya mulai gejala Jumat malam. Diare. Besoknya badannya panas, sorenya gemetar. Langsung saya bawa ke sini," kenang Kiti saat ditemui.

Kondisi Putri kini mulai membaik. Diare sudah berhenti, meski perutnya masih sakit dan rasa mual muncul jika minum obat. Namun trauma ibunya tak mudah hilang.

"Jujur, saya trauma sedikit. Kalau bisa, MBG untuk anak-anak lebih diperhatikan lagi sisi kebersihannya," ujarnya. Ia berencana kini akan selalu membawakan bekal makanan dari rumah untuk putrinya. "Kalau dapat MBG, ya dibawa pulang saja," tandasnya.

Menurut Kiti, program MBG di sekolah anaknya sudah berjalan 3-4 bulan. Kejadian ini, bagaimanapun, jadi pelajaran pahit. Harapannya, ke depan pengawasan dan pengolahan makanan bisa jauh lebih ketat. Agar anak-anak bisa makan dengan aman, tanpa rasa takut.

Editor: Bayu Santoso

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar