Hikmahanto Juwana Soroti Kekacauan Global Pasca-Serangan AS ke Venezuela

- Jumat, 09 Januari 2026 | 19:00 WIB
Hikmahanto Juwana Soroti Kekacauan Global Pasca-Serangan AS ke Venezuela
Analisis Dampak Serangan AS ke Venezuela

Serangan Amerika Serikat ke Venezuela dinilai bakal mengguncang peta geopolitik dunia. Analisis ini datang dari Guru Besar Hukum Internasional Universitas Indonesia, Hikmahanto Juwana. Menurutnya, langkah Washington itu bukan sekadar aksi militer biasa, tapi punya implikasi yang jauh lebih dalam.

Hikmahanto membeberkan sejumlah poin kritis. Yang pertama dan paling mendasar adalah soal hukum internasional. Aturan main global itu, katanya, kini tak lagi dihormati sebagai instrumen pembenar tindakan, apalagi sebagai norma penjaga ketertiban.

“Pertama, tidak dihormatinya hukum internasional oleh negara baik sebagai instrumen pembenar tindakan. Terlebih lagi sebagai norma untuk menjaga ketertiban,” ujarnya dalam keterangan tertulis, Jumat (9/1).

Lalu ada dampak kedua yang cukup mengkhawatirkan: bangkitnya kembali semangat imperialisme dalam tatanan dunia. Semua keputusan penting, mulai dari politik, keamanan, sampai ekonomi global, seolah-olah terpusat di satu tangan: Presiden AS Donald Trump.

Ia lantas memberi contoh nyata tentang sikap standar ganda yang dimainkan AS.

“Sebagai contoh bila Trump bisa menyerang Venezuela, namun Trump tidak akan senang bila China menyerang Taiwan. Bila Trump bisa menghadirkan Nicolas Maduro di Pengadilan New York, namun Trump akan melindungi Netanyahu dihadirkan di Mahkamah Kejahatan Internasional,” papar Hikmahanto.

Di sisi lain, poin ketiga yang ia soroti adalah potensi perubahan rezim di berbagai negara. Rezim mana saja yang dianggap tidak sejalan dengan kebijakan Washington, berisiko diganti. Fenomena ini mirip gelombang Arab Spring atau Latin America Spring, tapi dengan aktor penggerak yang berbeda.

Tak cuma itu, peran organisasi internasional juga terancam melemah. Khususnya Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), yang tampak tak berdaya menghadapi aksi-aksi AS di panggung global.

“Organisasi internasional seperti PBB lumpuh menghadapi ulah AS. Lumpuh karena penggunaan veto di Dewan Keamanan PBB dan keluarnya AS dari sejumlah badan PBB, yang berarti tidak lagi ada pembayaran iuran dari AS,” ungkapnya.

Yang menarik, Hikmahanto menyoroti satu fakta pahit: minimnya keberanian negara lain untuk melawan. Bahkan negara-negara besar sekalipun, sepertinya enggan berhadapan langsung dengan Washington.

“Terakhir, tidak ada negara yang berani menghadapi dan menghukum secara langsung ulah AS, sekalipun negara sekelas China atau Rusia,” tegasnya.

Lalu apa harapan yang tersisa? Hikmahanto menutup analisisnya dengan nada yang agak filosofis.

“Saat ini masyarakat dunia hanya bisa berharap pada Tuhan dan masyarakat AS, untuk melakukan impeachment (pemakzulan) dalam upaya menghentikan kekuasaan besar yang dimiliki oleh Trump untuk mengacaukan tatanan dunia,” tutupnya.

Jadi, situasinya memang rumit. Dunia seperti menyaksikan satu kekuatan super yang bergerak hampir tanpa penghalang, sementara mekanisme pengawasan global tampak kewalahan. Ke mana arahnya nanti? Itu pertanyaan besar yang jawabannya masih menggantung.

Editor: Erwin Pratama

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar